Rabu, 25 Mei 2016

Membongkar Idealisme Sejarah Bangsa (Sebuah Dekonstruksi Sejarah Hubungan Kerajaan Luwu & Majapahit)


Membongkar Idealisme Sejarah Bangsa
(Sebuah Dekonstruksi Sejarah Hubungan Kerajaan Luwu & Majapahit)
Fajar W. Hajer

Berbicara tentang dekonstruksi tentu kita akan tertuju kepada Derrida seorang Filsuf Postsrtukturalis. Derrida dalam Kevin O’Donnell (2009) menggunakan kata Prancis yang jarang dipakai dekonstruire yang berarti “membongkar mesin” (dengan akibat bahwa dapat dipasang kembali). Kata benda “dekonstruksi” digunakan untuk menyusun kembali gramatika kata-kata. Oleh karena itu, bagi Derrida dekonstruksi bersifat positif – ia menggoyang, menjungkirbalikan, mencemaskan, tetapi ia hanya mengobrak-abrik dengan tujuan memberi peluang membangun hal-hal baru dan menemukan makna baru. Ia membuka pikiran yang tertutup (O’Donnell, 2009: 58).
Maka demikian tulisan ini akan mencoba mendekonstruksi sejarah tentang To Manurung (Batara Guru) yang sampai saat ini diterima begitu saja tanpa ada upaya kritis untuk melihat sisi lain yang tersembunyi dibalik teks sejarah tersebut. Maka pertanyaan yang sekiranya relevan saat ini adalah apakah benar To Manurung merupakan anak dewa yang di utus ke bumi? Selanjutnya penulis juga akan mencoba memahami dan memperlihatkan sisi yang terlupakan mengenai hubungan Kerajaan Luwu dan Kerajaaan Majapahit, dimana sampai saat ini secara aksioma kita menerima begitu saja bahwa Majapahit merupakan salah satu kerajaan yang pernah menguasai nusantara. Apakah benar demikian? Merujuk kepada KBBI, nusantara diartikan sabagai sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Tentu dua pertanyaan tersebut yang akan penulis jawab dengan menggunakan pendekatan dekonstruksi Derrida, agar teks sejarah tidak hanya kita terima begitu saja sebagai idea-idea yang tak terbantahkan, atau merujuk kepada diktum Berkeley “ada karena tahu”, dalam artian penulis tidak ingin kita hanya sekedar tahu sejarah tersebut dari teks dan kemudian berhenti pada pengetahuan teks tersebut, serta meyakininya sebagai kebenaran tunggal tanpa membuka kemungkinan pemaknaan yang lain dari sejarah tersebut. Akhirnya sejarah tersebut menjadi dogma/ doktrin atau aksioma yang berujung pada panatisme kesukuan dan idealisme akut. Sehingga kita pun jatuh ke dalam longsoran idealis layaknya Berkeley yang mengetahui karena persepsi indrawi sedangkan yang belum dipersepsi tidak ada. Jadi, penulis ingin keluar dari mainstreaming (arus utama) dan membongkar sisi idealisme yang tersebunyi dibalik teks sejarah tersebut dengan jalan dekonstruksi, yakni menjungkirbalikan pemakanaan sejarah tersebut untuk menghasilkan perspektif yang berbeda. Sehingga sejarah tersebut tidak hanya hadir sebagai idea-idea yang terbatinkan dan terpahami secara tekstual, namun jauh daripada itu – kita akan menemukan sebuah pemaknaan/perspektif baru atas sejarah tersebut.

Deskripsi sejarah
Sudah menjadi kesepakatan para ahli sejarah dan para peneliti, baik peneliti barat maupun peneliti nasional bahwa kerajaan tertua di Sulawesi Selatan adalah Kerajaan Luwu, letaknya di bagian timur Sulawesi Selatan. Pandangan demikian juga sudah menjadi aksioma masyarakat Sulawesi Selatan, bahwa Luwu-lah tempat kerajaan pertama didirikan di Wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Menurut sebagian para ahli sejarah, kerajaan luwu berdiri sekitar abad ke-10 M, pertama kali dipimpin oleh Batara Guru (To Manurung= orang yang diturunkan dari langit ke dunia tengah). Dalam tradisi dan kayakinan orang Luwu Kuno sebagaimana termuat dalam kitab I La Galigo – dunia (alam semesta) itu terbagi ke dalam tiga bagian: pertama, dunia atas yang disebut Boting Langi’ dikuasai oleh To Patotoe (dewa langit); kedua, dunia bawah yang disebut Peretiwi/Buri’liung dikuasai oleh saudara perempuan To Patotoe (Guru Riselleng); ketiga, dunia tengah – tempat ini masih kosong tidak ada penghuni (inilah tempat yang menjadi cikal bakal diturunkannya Batara Guru dari dunia atas untuk mengisi dunia tengah yang masih kosong atas perintah To Patotoe yakni bapaknya sendiri).
Kepercayaan tentang Tomanurung (manusia yang diturunkan ke dunia tengah) merupakan unsur yang menguatkan nilai kebudayaan Luwu dan Bugis-Makassar. Mitos Galigo tertulis di dalam sure’ Galigo, Tokoh sentral di dalamnya adalah Sawerigading yang berkeinginan mempersunting adik kandung perempuannya (We Tenriabeng), tetapi karena dicegah, akhirnya berhasil memindahkan perasaan cintanya kepada seorang gadis Cina yang bernama We Cudai’. Pada peristiwa Tomanurung di Luwu tampak dengan jelas masalah kekeluargaan dan kekerabatan yang tampil lebih banyak dipersoalkan, sesudah pengisisan kawa (dunia tengah) ini.
Sure’ Galigo adalah sebuah cerita tentang sebuah cara hidup, filsafat yang mendasarinya, serta nilai-nilai dasar yang menjadi tonggak masyarakat Sulawesi Selatan. Keberadaan masyarakat ini dengan cara hidupnya dieskpresikan dalam tradisi tutur dan tulis yang mereka kembangkan menjadai sastra lokal. Pada abad 19, dalam periode pendudukan Belanda, tradisi tutur I la Galigo disatukan untuk kemudian dituliskan dalam sebuah kumpulan naskah sepanjang 6000 halaman atau 12 jilid. Naskah ini tidak tersentuh dan nyaris dilupakan kehadirannya karena sejak pembuatannya naskah tersebut tersimpan di perpustakaan di Belanda (Muhammad Bahar Akkase Teng: 2015, 194).
Dari Batara Guru (To Manunrung) ini, lahirlah penerus-penerusnya yang kemudian berkuasa sampai beberapa abad berikutnya (Abad 20). Sedangkan dua kerajaan berikutnya, yakni Kerajaan Gowa-Tallo (Makassar) dan Kerajaaan Bone (Bugis) muncul belakangan, yakni disekitar abad ke-14 M. Demikian Kerajaan Majapahit di Jawa baru muncul pada abad ke-13 (1293–1468 M). Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa Hayam Wuruk (1350-1389), dengan bantuan Mahapatih Gadjah Madah (1313-1364), konon Kerajaan Majapahit mengusai seluruh kepulaun Nusantara, yakni Malaya, Borneo, Bali, Sulawesi, Papua dan sebagian wilayah Filipina (Hendarsah Amir: 2010). Asal-usul Gadjah Mada sendiri masih menuai kontroversi dikalangan ahli sejarah, ada yang mengatakan dari Sumatra, Bali, Buton, Borneo, Jawa dan Sulawesi.
Dalam kitab Negarakertagama karya Mpu Prapanca dituliskan bahwa Kerajaan Majapahit melakukan ekspidisi ke wilayah Sulawesi Selatan dalam hal ini Luwu, Salayar, Makassar, dan Bantaeng. Yang kemudian muncul klaim sejarah bahwa kerajaan-kerajaan di Sulwesi Selatan kesemuanya berada di bawah hegemoni Majapahit. Dari penjelasan tersebut, ada dua kemungkinan kepentingan yang bisa kita tarik atas perjalanan Majapahit ke wilayah Sulawesi Selatan: pertama, Majapahit ingin memperluas wilayah kekuasaan dengan ekspansi militer; kedua, Majapahit membuka hubungan diplomatik dengan Kerajaan Luwu dan lainya untuk kepentingan perdagangan besi, dimana Luwu pada saat itu dikenal sebagai penghasil biji besi yang sangat terkenal di Nusantara. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya Perusahaan Pertambangan nikel dan besi di Wilayah Luwu Timur, PT. Inco yang sampai saat ini beroperasi.

Analisis:
1.      Dekonstruksi Sejarah Kerajaan Luwu
Sebagaimana telah dipaparkan di atas, bahwa kerajaan Luwu pertama kali dipimpin oleh manusia utusan dari dewa langit (To Patotoe), tiada lain adalah anak dari dewa langit itu sendiri, yang dikenal dengan nama Batara Guru (To Manurung). Dari penjelasan tersebut dapat kita pahami bahwa, masyarakat Luwu Kuno mayakini akan kekuasaan para dewa-dewa, yakni dewa langit, dan dewa bumi bawah. Maka dalam konteks hari ini, kepercayaan tersebut membawa dampak negatif secara sosial, dimana masyarakat Luwu serta Bugis-Makassar terlalu membangga-banggakan dirinya sebagai suku terbaik dan suku pilihan karena mereka merasa masih keturunan Batara Guru (To Manurung), yakni manusia titisan dewa. Sehingga panatisme kesukuan pun timbul – maka tidak mengherankan jika masih banyak – bahkan sebagian besar masyarakat Luwu (Bugis-Makassar) merasa enggan untuk melakukan pernikahan dengan orang yang beda suku atau lain suku. Termasuk menikah dengan dengan suku Jawa. Mereka lupa bahwa nenek moyangnya, yakni Raja Anakaji Datu Luwu ke-4 pernah membangun kekerabatan yang kuat dengan kerajaan Majapahit, dengan melakukan pernikahan dengan seorang putri Raja Majapahit, yang dijuluki sebagai We Tappacina.
Jika kita dalami sejarah di utusnya Batara Guru ke dunia tengah sebagaimana disebutkan di atas, maka disana kita akan menemukan makna filosofis yang sangat dalam, karena di dalamnya ada pesan moral bagi masyarakat Luwu, Bugis dan Makassar itu sendiri. Oleh karena itu, penulis lebih tertarik memaknai sejarah tersebut secara filosofis dan politis, maka ada dua pesan yang dapat kita tangkap atas peristiwa sejarah tersebut: Pertama, pesan moral, pada dasarnya Raja/Datu Luwu pertama bukanlah keturunan dewa dalam arti yang sebenarnya sebagaimana digambarkan dalam Kitab I La Galigo, melainkan itu hanya metafora untuk menggambarkan bahwa seorang keturunan Luwu (wija to luwu) akan mulia kedudukannya bagaikan dewa-dewa – sebagaimana dalam pandangan Erich Fromm bahwa manusia diciptakan dalam gambaran Tuhan. Yakni manusia bisa menjadi seperti Tuhan tetapi tidak bisa menjadi Tuhan. Manusia dipandang sebagai makhluk yang diciptakan dalam kemiripan Tuhan…. (Fromm, 2003: 101, 107, 109), jika dalam kesehariannya selalu menghiasi dirinya dengan akhkaq yang mulia, yakni menjungjung tinggi nilai-nilai keadilan, empati, moralitas, dan integritas, baik ketika ia sebagai pemimpin maupun ketika ia sebagai rakyat biasa.
Ini dapat kita pahami dan dapat kita tarik ke dalam simbolitas Badik (kawali) yang termanifestasi dalam falsafah (Makassar: Siri Na Pacce) (Bugis: Siri’ Na Pesse) (Luwu: Siri’ Na Asse Tambuk). Secara kosmis, simbolitas kawali tersebut mengandung dua entitas nilai atau kualitas maskulinitas dan feminitas (Jalaliya dan Jamaliya/ Yin dan Yang – pertama kualitas maskulin diwakili “siri” yang dimaknai sebagai harga diri, keperkasaan, kepahlawanan, keaguangaan, dan kejujuran, sedangkan kualitas faminin diwakili oleh “pacce/pesse/asse tambuk” yang bermakna empati, kasih sayang, cinta, solidaritas, humanisme, dan rasa kasih atau rasa tidak ingin melihat orang lain menderita. Jadi manusia Luwu (Bugis-Makasasar) akan mencapai kesempurnaannya (akhlaq/moralitas) jika dua entitas tesebut (baca: siri na  pacce) menyatu di dalam diri dan jiwanya. Karena siri tanpa pacce maka manusia Luwu (bagis Makassar) akan jatuh ke dalam kesombongan dan kesewenang-wenangan, bahkan ia bisa jatuh ke dalam sifat-sifat kebinatangan. Muthahhari filsuf Iran menyebut manusia seperti itu dengan istilah Maskh, yakni manusia yang  berbadan dan bentuk tubuhnya tidak berubah menjadi hewan, namun secara watak atau sifat mereka berubah seperti hewan, bahkan berubah menjadi watak satu jenis binatang yang tak satu hewan pun dapat menandingi kekejian, kebuasan, dan kehinaannya (Muthahhari, 2012: 17). 
Maka siri harus senantiasa dikawal oleh pacce agar perilakunya senantiasa berada dalam keseimbangan dan keadilan. Jadi simbolitas “badik” tersebut membawa pesan tentang perdamaian dan keadilan. Oleh karena itu, penyelesaian masalah dalam budaya masyarakat Luwu/Bugis-Makassar dilakukan melalui tiga tahapan atau tiga ujung: pertama, “ujung lidah”  yang dimaknai sebagai tahap negosiasi (politis) berorientasi pada perdamaian, kedua, “ujung kemaluan” dimaknai sebagai pernikahan/perkawinan politik yang berorientasi pada persahabatan dan persekutuan, ketiga, ujung badik yang dimaknai sebagai perang atau pertumpahan darah.  Jadi, perang adalah jalan terakhir setelah melalui dua tahapan tersebut.
Kedua, pesan politis, ada kemungkinan, Imperium Luwu pra Islam ini berusaha melegitimasi kekusaannya dengan menggunakan simbol-simbol sakralitas dewa, yakni simbol-simbol dewa penguasa langit dan bumi, hal tersebut dapat kita pahami bahwa raja-raja luwu (Pajung/Datu ri Luwu) berusaha melakukan hegemoni kekuasaan dengan cara meyakinkan rakyatnya melalui syair, epos, dan cerita-cerita rakyat yang bercerita tentang Raja Luwu sebagai manusia titisan dewa atau anak dewa, namun pada hakekatnya dibalik teks syair, epos dan cerita-cerita tersebut ada pakta kuasa yang dimainkan oleh raja-raja, yakni Hegemoni dan Dominasi. Ini hampir sama dengan Firaun (Ramses II) yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan, dimana secara politik hal tersebut dapat dimaklumi karena politik itu – jika kita menggunalan nalar Machiavelli adalah cerita tentang bagaimana meraih kekuasaan dan sekaligus melanggengkan kekuasaan tersebut, baik dengan cara-cara halus (hegemoni) maupun dengan cara-cara kekerasan (dominasi). Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa Raja Luwu berusaha meredukasi dan menunggangi Agama (keyakinan) rakyatnya sebagai kendaraan legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya. Wacana dewa-dewa  dalam teks I La Galigo ini, secara politik cukup efektif menciptakan pakta kuasa (relasi kuasa melalui citra/wacana dewa) Raja-raja Luwu. Sehingga kuasa tersebut terus-menerus mengkoptasi masyarakat secara halus melalui wacana mainstream titisan dewa, yang mana wacana tersebut diproduksi melalui epos-epos dan cerita-cerita rakyat.
 Maka citra dewa yang disandarkan kepada Raja Luwu, dari raja pertama sampai akhir, jika kita miminjam istilah Weber – melahirkan dua sumber otoritas: pertama, otoritas tradisional, yaitu sumber kekuasaan yang bersumber dari kepercayaan kuno, misalnya, kekuasaan diperoleh dari hubungan darah atau kesukuan; kedua, otoritas kharismatis, mendapatkan otoritas kuasa dari kemampuan atau ciri-ciri luar biasa, atau bisa dari keyakinan pihak pengikut bahwa pemimpin itu mempanyai ciri-ciri seperti (penulis – dewa) itu (Ritzer, 2004: 38-39).
2.      Dekostruksi Hubungan Luwu dan Majapahit
Pada masa Datu Luwu III, Simpurusiang, aktifitas perdagangan sudah mulai dilakukan dengan daerah-daerah lain di sulawesi selatan, bahkan sampai ke jawa, khususnya Singasari dan Majapahit, berdasarkan sumber tertulis yang  berasal dari kitab Nagarakertagama karya Mpu Prapanca (1365) dari kerajaan Majapahit menyebutkan:
“Murwah tanah 1 Bantayan pramuka Bantayan ke luwuk adamaktrayathi Mikanang sanusaaspupu! Ikang sakanusa Makassar, batun, Banggawi, Kuni craliyao mwangi (mg), selaya, sumba (ni)”  (pigeyaut, 1962.)       
Nama Luwu dalam keterangan tersebut merupakan sebutan dari suatu daerah tempat penghasil bahan baku logam dalam pembuatan senjata-senjata pusaka, dan dikenal memiliki kualitas yang bagus dalam pembuatannya yang kemudian dikenal dengan “pamor luwu”. Aktifitas perdagangan Luwu terus berkembang bahkan sampai ke Cina. Di luwu saat ini ada PT. Inco sebagai perusahaan yang bergerak pada tambang Nikel dan Besi, itu bisa jadi bukti bahwa luwu adalah pusat besi dan nikel.    
Hubungan Luwu-Majapahit dapat kita identifikasi dari masa Datu Luwu ke-3 sampai Datu Luwu ke-4 sebagaimana disebutkan sebelumnya. Anakaji ketika dewasa, menikah dengan putri Majapahit yang punya paras seperti putri Cina. Kisah pernikahan mereka terdapat dalam lontara berbunyi, “na iya manurungnge ri majampai, (Adapun yang muncul di Majapahit,) iyana riaseng Selamalama (dinamakan Selamalama) iyana siala Batara Weli (yang kawin dengan Batara Weli) najaji Tappacina (maka lahir lah Tappacina/berparas cina) iyana siala Anakaji (dia lah ini yang kawin dengan Anakaji)”.
Menurut sejarahwan HD. Mengemba bahwa Istri Anakaji bersaudara dengan Swan Leong yang bersaudara tiri dengan Ratu Suhita yang mewarisi tahta Majapahit setelah Wikrawardhana mangkat. Tidak banyak yang mengetahui bahwa sejak lama Luwu sebagai kerajaan terbesar pra Islam di Sulawesi menjalin hubungan kekerabatan dengan Majapahit yang pada masa itu merupakan kerajaan terbesar di pulau Jawa (Indra Sastrawat: 2015).
Lalu apa yang mendorong kedua kerajaan ini membuat aliansi, salah satunya kemunginannya adalah kepentingan ekonomi? Majapahit membutuhkan sebuah benda yang sangat berharga dari Negeri Luwu yaitu “besi”. Menurut Iwan Sumantri, besi Luwu sangat populer karena adanya kandungan nikel yang membuat kualitas besi menjadi ringan dengan titik didih yang rendah.  Besi dengan campuran kandungan nikel menjadi bahan baku yang bagus untuk pembuatan keris.
Pada abad 13 hingga akhir 14, Luwu mengekspor besi ke kerajaan Majapahit. Saat itu Majapahit membutuhkan besi dalam jumlah besar untuk ekspansi militer mereka ke Sumatera, Kalimantan dan Sunda Kecil. Hal tersebut diperkuat oleh Penelitian DR. Anthony Red menyatakan bahwa besi di Majapahit berasal dari besi Luwu. Yang mengindikasikan bahwa antara Kerajaan Luwu dan Majapahit pernah menjalin hubungan bilateral.
Timbul satu pertanyaan kritis, apa benar Kerajaan Majapahit menguasai seluruh nusantara? Perlu di ingat, bahwa dalam tradisi Kerajaan Luwu – ada semacam larangan untuk menikahkankan anak Putrinya dengan seorang Raja yang bukan dari keturunan Luwu. Bagi mereka, menikahkan putri Luwu dengan Raja luar Luwu – itu merupakan simbol ketundukkan kepada raja tersebut. Sebaliknya, Raja Luwu diperbolehkan menikahi seorang putri dari kerajaan luar Luwu, karena itu adalah simbol hegemoni luwu terhadap kerajaan tersebut. Disini, ada satu bukti historis yang cukup menarik diperdebatkan – dimana Anakaji Raja Luwu IV, menikahi seorang putri dari kerajaan Majapahit yang dijuluki We Tappacina. Maka pertanyaannya, siapa yang menghegemoni siapa? kekuatan ada dimana, apakah secara politis dan ekonomi Luwu  lebih kuat daripada Majapahit, atau sebaliknya Luwu berada di bawah hegemoni Majapahit? Atau secara politik kekuatannya berimbang? Mungkin jawaban mendekati kebenaran adalah dua kerajaan besar tersebut (Luwu dan Majapahit) sama-sama berada pada posisi yang kuat, baik secara politik, ekonomi, maupun dari segi militer. Jika demikian, lalu kenapa kerajaaan Majapahit menikahkan Putrinya dengan Anakaji Raja Luwu IV? Saya tidak ingin mengatakan bahwa secara perimbangan kekuatan – kerajaan Luwu lebih kuat dari Majapahit, namun kemungkinan indikasi itu ada.
Sebagaimana diketahui, tidak ada catatan sejarah yang bisa dijadikan acuan bahwa kerajaan Luwu berada di bawah hegemoni kerajaan Majapahit. Disini, dapat kita katakan bahwa Kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan tidak pernah tunduk di bawah kerajaan Majapahit, namun kontak antara Majapahit dan Luwu hanya sebatas pada hubungan dan koalisi ekonomi/dagang, utamanya pada sektor perdagangan besi. Maka ekspedisi Majapahit ke Luwu kemungkinan besar untuk memenuhi kebutuhan mereka akan besi, tiada lain adalah untuk pembuatan senjata perang semisal, keris, dll.
Maka perlu diluruskan bahwa kedatangan balatentara kerajaan Majapahit seperti yang tertulis dalam teks Negarakertagama karya Mpu Prapanca adalah untuk kepentingan ekonomi bukan ekspansi militer. Jadi, kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan tidak pernah berada dalam pengaruh kerajaan Majapahit. Sampai sekarang tidak ada satu-pun bukti arkelogi atau teks lontara yang menyebutkan telah terjadi perang antara Majapahit dengan kerajaan di Sulawesi pada masa itu. Jadi, kalau kita kembali kepada makna Nusantara sebagai keseluruhan kepulauan yang berada dalam kawasan NKRI, maka klaim sejarah yang mengatakan Kerajaan Majapahit menguasai seluruh Nusantara dapat kita gugurkan, karena kembali ke data sejarah baik dalam kitab I Laga Ligo dan Kitab Negarakertagama sama sekali tidak ada catatan sejarah bahwa Raja Luwu termasuk Makassar dan Bone berada dalam kekuasaan Kerajaan Majapahit. Jadi aksioma tentang Kerajaan Majapahit menguasai seluruh kepulauan Nusantara adalah mitos yang sama sekali jauh dari kebenaran, baik kebenaran secara logis maupun ilmiah. Karena sama sekali tidak ada jejak-jejak erkeologis atau peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit di Sulawesi Selatan baik pada wilayah Makassar, Luwu, dan Bone. Satu hal yang perlu kita catat bahwa istana Kerajaan Luwu masih berdiri kokoh di kota Palopo, bagitupun Gowa dengan Benteng Somba Opu-nya, sedangkan Letak istana kerajaan Majapahit kehilangan jejak dan para ahli sejarah belum menemukan secara tepat dimana letak dan kepastian posisinya. Adalah ironi sejarah, sebuah kerajaan yang di klaim sebagai kerajaan besar namun kehilangan jejak-jejak historisnya.
Kesimpulan
Sebuah teks sejarah tidak bisa diterima begitu saja secara aksioma tanpa ada upaya  kritis, karena menerima sejarah begitu saja sama halnya menjatuhkan diri ke dalam simulasi yang dibaliknya sarat dengan kepentingan dan dominasi, akhirnya kita tenggelam ke dalam idealisme yang menerima teks sebagai sandaran kebenaran padahal teks tersebut seharusnya dibongkar dan dikonfirmasi kebenarannya. Oleh kerana itu, idea tentang kerajaaan Majapahit sebagai penguasa Nusantara yang sampai saat ini diyakini secara aksioma – bagi penulis itu merupakan klaim sejarah yang berangkat dari simulasi sejarah yang penuh dengan reduksi dan distorsi untuk tidak mengatakan bahwa itu adalah mitos yang tidak bisa dipertanggujawabkan secara logis maupun ilmiah. karena jika kita konsisten menerima makna Nusantara sebagai keseluruhan kepulauan yang berada dalam wilayah NKRI, maka gugurlah klaim sejarah tersebut di atas karena tidak ada bukti sejarah bahwa Kerajaan Luwu dan kerajaan lainnya di Sulawesi selatan berada di bawah hegemoni dan dominasi Majapahit.

2 komentar:

  1. https://kokonatsutrrrrrrrrrrrrr.blogspot.sg/2017/12/sifat-jelek-berdasarkan-zodiak-cek.html
    https://kokonatsutrrrrrrrrrrrrr.blogspot.sg/2017/12/8-cara-fast-food-membunuh-anda-secara.html
    https://kokonatsutrrrrrrrrrrrrr.blogspot.sg/2017/12/usai-vaksin-dbd-997-anak-si-filipina.html

    Taipan Indonesia | Taipan Asia | Bandar Taipan | BandarQ Online
    SITUS JUDI KARTU ONLINE EKSKLUSIF UNTUK PARA BOS-BOS
    Kami tantang para bos semua yang suka bermain kartu
    dengan kemungkinan menang sangat besar.
    Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
    Cukup Dengan 1 user ID sudah bisa bermain 7 Games.
    • AduQ
    • BandarQ
    • Capsa
    • Domino99
    • Poker
    • Bandarpoker.
    • Sakong
    Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
    Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
    customer service kami yang profesional dan ramah.
    NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
    Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
    Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
    • FaceBook : @TaipanQQinfo
    • WA :+62 813 8217 0873
    • BB : D60E4A61
    Come & Join Us!!

    BalasHapus
  2. Menarik ulasan yang Anda sajikan di atas. Metode penulisannya juga sudah mewakili ulasannya. Hanya saja dalam konteks lain, apa yang Anda tulis di atas tentu berbeda yang dipahami oleh pihak lain.
    Katakanlah dalam Teori Raltivisme, apa yang disajikan oleh penulis dalam naskah I La Galigo merupakan kebenaran relativisme. Artinya bahwa kita memandang benar apa yang dipahami oleh masyarakat pendukung sejarah atau kebudayaan itu berdasarkan pemahaman dan keyakinan mereka. Seperti, masyarakat pendukung sejarah itu memahami bahwa Batara Guru adalah Dewa, maka dalam teori relativisme maka kita harus memahami hal tersebut sebagai kebenaran teori tersebut.
    Namun jika hal tersebut dibawa ke pendekatan atau pandangan Derrida, maka apa yang Andi tulis di atas kita dapat maknai sebagai sebuah kebenaran lain.
    Tapi setidaknya saya mengapresiasi tulisan Anda ...

    BalasHapus