Membongkar
Idealisme Sejarah Bangsa
(Sebuah Dekonstruksi Sejarah Hubungan Kerajaan Luwu
& Majapahit)
Fajar W. Hajer
Berbicara tentang dekonstruksi tentu
kita akan tertuju kepada Derrida seorang Filsuf Postsrtukturalis. Derrida dalam
Kevin O’Donnell (2009) menggunakan kata Prancis yang jarang dipakai dekonstruire yang berarti “membongkar
mesin” (dengan akibat bahwa dapat dipasang kembali). Kata benda “dekonstruksi”
digunakan untuk menyusun kembali gramatika kata-kata. Oleh karena itu, bagi
Derrida dekonstruksi bersifat positif – ia menggoyang, menjungkirbalikan,
mencemaskan, tetapi ia hanya mengobrak-abrik dengan tujuan memberi peluang
membangun hal-hal baru dan menemukan makna baru. Ia membuka pikiran yang tertutup
(O’Donnell, 2009: 58).
Maka demikian tulisan ini akan mencoba
mendekonstruksi sejarah tentang To Manurung (Batara Guru) yang sampai saat ini
diterima begitu saja tanpa ada upaya kritis untuk melihat sisi lain yang
tersembunyi dibalik teks sejarah tersebut. Maka pertanyaan yang sekiranya
relevan saat ini adalah apakah benar To Manurung merupakan anak dewa yang di
utus ke bumi? Selanjutnya penulis juga akan mencoba memahami dan memperlihatkan
sisi yang terlupakan mengenai hubungan Kerajaan Luwu dan Kerajaaan Majapahit,
dimana sampai saat ini secara aksioma kita menerima begitu saja bahwa Majapahit
merupakan salah satu kerajaan yang pernah menguasai nusantara. Apakah benar
demikian? Merujuk kepada KBBI, nusantara diartikan sabagai sebutan (nama) bagi
seluruh wilayah kepulauan Indonesia. Tentu dua pertanyaan tersebut yang akan
penulis jawab dengan menggunakan pendekatan dekonstruksi Derrida, agar teks
sejarah tidak hanya kita terima begitu saja sebagai idea-idea yang tak
terbantahkan, atau merujuk kepada diktum Berkeley “ada karena tahu”, dalam
artian penulis tidak ingin kita hanya sekedar tahu sejarah tersebut dari teks
dan kemudian berhenti pada pengetahuan teks tersebut, serta meyakininya sebagai
kebenaran tunggal tanpa membuka kemungkinan pemaknaan yang lain dari sejarah
tersebut. Akhirnya sejarah tersebut menjadi dogma/ doktrin atau aksioma yang
berujung pada panatisme kesukuan dan idealisme akut. Sehingga kita pun jatuh ke
dalam longsoran idealis layaknya Berkeley yang mengetahui karena persepsi
indrawi sedangkan yang belum dipersepsi tidak ada. Jadi, penulis ingin keluar
dari mainstreaming (arus utama) dan membongkar sisi idealisme yang tersebunyi
dibalik teks sejarah tersebut dengan jalan dekonstruksi, yakni
menjungkirbalikan pemakanaan sejarah tersebut untuk menghasilkan perspektif
yang berbeda. Sehingga sejarah tersebut tidak hanya hadir sebagai idea-idea
yang terbatinkan dan terpahami secara tekstual, namun jauh daripada itu – kita
akan menemukan sebuah pemaknaan/perspektif baru atas sejarah tersebut.
Deskripsi sejarah
Sudah menjadi kesepakatan para ahli
sejarah dan para peneliti, baik peneliti barat maupun peneliti nasional bahwa
kerajaan tertua di Sulawesi Selatan adalah Kerajaan Luwu, letaknya di bagian
timur Sulawesi Selatan. Pandangan demikian juga sudah menjadi aksioma
masyarakat Sulawesi Selatan, bahwa Luwu-lah tempat kerajaan pertama didirikan
di Wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya. Menurut sebagian para ahli sejarah,
kerajaan luwu berdiri sekitar abad ke-10 M, pertama kali dipimpin oleh Batara Guru (To Manurung= orang yang diturunkan dari langit ke dunia tengah).
Dalam tradisi dan kayakinan orang Luwu Kuno sebagaimana termuat dalam kitab I La Galigo – dunia (alam semesta) itu
terbagi ke dalam tiga bagian: pertama, dunia atas yang disebut Boting Langi’ dikuasai oleh To Patotoe (dewa langit); kedua, dunia
bawah yang disebut Peretiwi/Buri’liung dikuasai oleh saudara perempuan To
Patotoe (Guru Riselleng); ketiga, dunia tengah – tempat ini masih kosong tidak
ada penghuni (inilah tempat yang menjadi cikal bakal diturunkannya Batara Guru dari dunia atas untuk
mengisi dunia tengah yang masih kosong atas perintah To Patotoe yakni bapaknya sendiri).
Kepercayaan tentang Tomanurung
(manusia yang diturunkan ke dunia tengah) merupakan unsur yang menguatkan nilai
kebudayaan Luwu dan Bugis-Makassar. Mitos Galigo tertulis di dalam sure’
Galigo, Tokoh sentral di dalamnya adalah Sawerigading yang berkeinginan
mempersunting adik kandung perempuannya (We Tenriabeng), tetapi karena dicegah,
akhirnya berhasil memindahkan perasaan cintanya kepada seorang gadis Cina yang
bernama We Cudai’. Pada peristiwa Tomanurung di Luwu tampak dengan jelas
masalah kekeluargaan dan kekerabatan yang tampil lebih banyak dipersoalkan,
sesudah pengisisan kawa (dunia tengah) ini.
Sure’ Galigo adalah sebuah
cerita tentang sebuah cara hidup, filsafat yang mendasarinya, serta nilai-nilai
dasar yang menjadi tonggak masyarakat Sulawesi Selatan. Keberadaan masyarakat
ini dengan cara hidupnya dieskpresikan dalam tradisi tutur dan tulis yang
mereka kembangkan menjadai sastra lokal. Pada abad 19, dalam periode pendudukan
Belanda, tradisi tutur I la Galigo disatukan untuk kemudian dituliskan dalam
sebuah kumpulan naskah sepanjang 6000 halaman atau 12 jilid. Naskah ini tidak
tersentuh dan nyaris dilupakan kehadirannya karena sejak pembuatannya naskah
tersebut tersimpan di perpustakaan di Belanda (Muhammad Bahar Akkase Teng: 2015, 194).
Dari Batara Guru (To Manunrung) ini,
lahirlah penerus-penerusnya yang kemudian berkuasa sampai beberapa abad
berikutnya (Abad 20). Sedangkan dua kerajaan berikutnya, yakni Kerajaan
Gowa-Tallo (Makassar) dan Kerajaaan Bone (Bugis) muncul belakangan, yakni
disekitar abad ke-14 M. Demikian Kerajaan Majapahit di Jawa baru muncul pada abad ke-13
(1293–1468 M). Majapahit mencapai puncak kejayaannya pada masa
Hayam Wuruk (1350-1389), dengan bantuan Mahapatih Gadjah Madah (1313-1364),
konon Kerajaan Majapahit mengusai seluruh kepulaun Nusantara, yakni Malaya,
Borneo, Bali, Sulawesi, Papua dan sebagian wilayah Filipina (Hendarsah Amir:
2010). Asal-usul Gadjah Mada sendiri masih menuai kontroversi dikalangan ahli
sejarah, ada yang mengatakan dari Sumatra, Bali, Buton, Borneo, Jawa dan
Sulawesi.
Dalam kitab Negarakertagama karya Mpu
Prapanca dituliskan bahwa Kerajaan Majapahit melakukan ekspidisi ke wilayah
Sulawesi Selatan dalam hal ini Luwu, Salayar, Makassar, dan Bantaeng. Yang
kemudian muncul klaim sejarah bahwa kerajaan-kerajaan di Sulwesi Selatan
kesemuanya berada di bawah hegemoni Majapahit. Dari penjelasan tersebut, ada
dua kemungkinan kepentingan yang bisa kita tarik atas perjalanan Majapahit ke
wilayah Sulawesi Selatan: pertama, Majapahit
ingin memperluas wilayah kekuasaan dengan ekspansi militer; kedua, Majapahit membuka hubungan
diplomatik dengan Kerajaan Luwu dan lainya untuk kepentingan perdagangan besi,
dimana Luwu pada saat itu dikenal sebagai penghasil biji besi yang sangat
terkenal di Nusantara. Hal tersebut bisa dibuktikan dengan adanya Perusahaan
Pertambangan nikel dan besi di Wilayah Luwu Timur, PT. Inco yang sampai saat
ini beroperasi.
Analisis:
1.
Dekonstruksi
Sejarah Kerajaan Luwu
Sebagaimana telah dipaparkan di atas,
bahwa kerajaan Luwu pertama kali dipimpin oleh manusia utusan dari dewa langit
(To Patotoe), tiada lain adalah anak
dari dewa langit itu sendiri, yang dikenal dengan nama Batara Guru (To Manurung). Dari penjelasan tersebut
dapat kita pahami bahwa, masyarakat Luwu Kuno mayakini akan kekuasaan para
dewa-dewa, yakni dewa langit, dan dewa bumi bawah. Maka dalam konteks hari ini,
kepercayaan tersebut membawa dampak negatif secara sosial, dimana masyarakat
Luwu serta Bugis-Makassar terlalu membangga-banggakan dirinya sebagai suku
terbaik dan suku pilihan karena mereka merasa masih keturunan Batara Guru (To
Manurung), yakni manusia titisan dewa. Sehingga panatisme kesukuan pun timbul –
maka tidak mengherankan jika masih banyak – bahkan sebagian besar masyarakat
Luwu (Bugis-Makassar) merasa enggan untuk melakukan pernikahan dengan orang
yang beda suku atau lain suku. Termasuk menikah dengan dengan suku Jawa. Mereka
lupa bahwa nenek moyangnya, yakni Raja Anakaji Datu Luwu ke-4 pernah membangun
kekerabatan yang kuat dengan kerajaan Majapahit, dengan melakukan pernikahan
dengan seorang putri Raja Majapahit, yang dijuluki sebagai We Tappacina.
Jika kita dalami sejarah di utusnya
Batara Guru ke dunia tengah sebagaimana disebutkan di atas, maka disana kita
akan menemukan makna filosofis yang sangat dalam, karena di dalamnya ada pesan
moral bagi masyarakat Luwu, Bugis dan Makassar itu sendiri. Oleh karena itu,
penulis lebih tertarik memaknai sejarah tersebut secara filosofis dan politis,
maka ada dua pesan yang dapat kita tangkap atas peristiwa sejarah tersebut: Pertama, pesan moral, pada dasarnya Raja/Datu
Luwu pertama bukanlah keturunan dewa dalam arti yang sebenarnya sebagaimana
digambarkan dalam Kitab I La Galigo,
melainkan itu hanya metafora untuk
menggambarkan bahwa seorang keturunan Luwu (wija
to luwu) akan mulia kedudukannya bagaikan dewa-dewa – sebagaimana dalam
pandangan Erich Fromm bahwa manusia diciptakan dalam gambaran Tuhan. Yakni
manusia bisa menjadi seperti Tuhan tetapi tidak bisa menjadi Tuhan. Manusia
dipandang sebagai makhluk yang diciptakan dalam kemiripan Tuhan…. (Fromm, 2003:
101, 107, 109), jika dalam kesehariannya selalu menghiasi dirinya dengan akhkaq
yang mulia, yakni menjungjung tinggi nilai-nilai keadilan, empati, moralitas,
dan integritas, baik ketika ia sebagai pemimpin maupun ketika ia sebagai rakyat
biasa.
Ini dapat kita pahami dan dapat kita
tarik ke dalam simbolitas Badik (kawali) yang termanifestasi dalam falsafah
(Makassar: Siri Na Pacce) (Bugis: Siri’ Na Pesse) (Luwu: Siri’ Na Asse Tambuk). Secara kosmis,
simbolitas kawali tersebut mengandung dua entitas nilai atau kualitas
maskulinitas dan feminitas (Jalaliya dan Jamaliya/ Yin dan Yang – pertama
kualitas maskulin diwakili “siri”
yang dimaknai sebagai harga diri, keperkasaan, kepahlawanan, keaguangaan, dan
kejujuran, sedangkan kualitas faminin diwakili oleh “pacce/pesse/asse tambuk” yang bermakna empati, kasih sayang,
cinta, solidaritas, humanisme, dan rasa kasih atau rasa tidak ingin melihat
orang lain menderita. Jadi manusia Luwu (Bugis-Makasasar) akan mencapai
kesempurnaannya (akhlaq/moralitas) jika dua entitas tesebut (baca: siri na
pacce) menyatu di dalam diri dan jiwanya. Karena siri tanpa pacce maka manusia Luwu (bagis Makassar) akan jatuh ke dalam
kesombongan dan kesewenang-wenangan, bahkan ia bisa jatuh ke dalam sifat-sifat
kebinatangan. Muthahhari filsuf Iran menyebut manusia seperti itu dengan
istilah Maskh, yakni manusia yang berbadan dan bentuk tubuhnya tidak berubah
menjadi hewan, namun secara watak atau sifat mereka berubah seperti hewan, bahkan
berubah menjadi watak satu jenis binatang yang tak satu hewan pun dapat
menandingi kekejian, kebuasan, dan kehinaannya (Muthahhari, 2012: 17).
Maka siri
harus senantiasa dikawal oleh pacce
agar perilakunya senantiasa berada dalam keseimbangan dan keadilan. Jadi simbolitas
“badik” tersebut membawa pesan tentang perdamaian dan keadilan. Oleh karena
itu, penyelesaian masalah dalam budaya masyarakat Luwu/Bugis-Makassar dilakukan
melalui tiga tahapan atau tiga ujung: pertama, “ujung lidah” yang dimaknai sebagai tahap negosiasi
(politis) berorientasi pada perdamaian, kedua, “ujung kemaluan” dimaknai
sebagai pernikahan/perkawinan politik yang berorientasi pada persahabatan dan
persekutuan, ketiga, ujung badik yang dimaknai sebagai perang atau pertumpahan
darah. Jadi, perang adalah jalan
terakhir setelah melalui dua tahapan tersebut.
Kedua,
pesan politis, ada kemungkinan, Imperium Luwu pra Islam ini berusaha
melegitimasi kekusaannya dengan menggunakan simbol-simbol sakralitas dewa,
yakni simbol-simbol dewa penguasa langit dan bumi, hal tersebut dapat kita
pahami bahwa raja-raja luwu (Pajung/Datu
ri Luwu) berusaha melakukan hegemoni kekuasaan dengan cara meyakinkan
rakyatnya melalui syair, epos, dan cerita-cerita rakyat yang bercerita tentang Raja
Luwu sebagai manusia titisan dewa atau anak dewa, namun pada hakekatnya dibalik
teks syair, epos dan cerita-cerita tersebut ada pakta kuasa yang dimainkan oleh
raja-raja, yakni Hegemoni dan Dominasi. Ini hampir sama dengan Firaun
(Ramses II) yang mengklaim dirinya sebagai Tuhan, dimana secara politik hal
tersebut dapat dimaklumi karena politik itu – jika kita menggunalan nalar
Machiavelli adalah cerita tentang bagaimana meraih kekuasaan dan sekaligus
melanggengkan kekuasaan tersebut, baik dengan cara-cara halus (hegemoni) maupun
dengan cara-cara kekerasan (dominasi). Dari penjelasan tersebut, terlihat bahwa
Raja Luwu berusaha meredukasi dan menunggangi Agama (keyakinan) rakyatnya
sebagai kendaraan legitimasi untuk melanggengkan kekuasaannya. Wacana dewa-dewa dalam teks I La Galigo ini, secara politik cukup efektif menciptakan pakta
kuasa (relasi kuasa melalui citra/wacana dewa) Raja-raja Luwu. Sehingga kuasa
tersebut terus-menerus mengkoptasi masyarakat secara halus melalui wacana
mainstream titisan dewa, yang mana wacana tersebut diproduksi melalui epos-epos
dan cerita-cerita rakyat.
Maka citra dewa yang disandarkan kepada Raja
Luwu, dari raja pertama sampai akhir, jika kita miminjam istilah Weber – melahirkan
dua sumber otoritas: pertama,
otoritas tradisional, yaitu sumber kekuasaan yang bersumber dari kepercayaan
kuno, misalnya, kekuasaan diperoleh dari hubungan darah atau kesukuan; kedua, otoritas kharismatis, mendapatkan
otoritas kuasa dari kemampuan atau ciri-ciri luar biasa, atau bisa dari keyakinan
pihak pengikut bahwa pemimpin itu mempanyai ciri-ciri seperti (penulis – dewa) itu (Ritzer, 2004:
38-39).
2.
Dekostruksi
Hubungan Luwu dan Majapahit
Pada
masa Datu Luwu III, Simpurusiang, aktifitas perdagangan sudah mulai dilakukan
dengan daerah-daerah lain di sulawesi selatan, bahkan sampai ke jawa, khususnya
Singasari dan Majapahit, berdasarkan sumber tertulis yang berasal dari
kitab Nagarakertagama karya Mpu Prapanca (1365) dari kerajaan Majapahit
menyebutkan:
“Murwah tanah 1 Bantayan pramuka Bantayan
ke luwuk adamaktrayathi Mikanang sanusaaspupu! Ikang sakanusa Makassar, batun,
Banggawi, Kuni craliyao mwangi (mg), selaya, sumba (ni)” (pigeyaut, 1962.)
Nama
Luwu dalam keterangan tersebut merupakan sebutan dari suatu daerah tempat
penghasil bahan baku logam dalam pembuatan senjata-senjata pusaka, dan dikenal
memiliki kualitas yang bagus dalam pembuatannya yang kemudian dikenal dengan
“pamor luwu”. Aktifitas perdagangan Luwu terus berkembang bahkan sampai ke
Cina. Di luwu saat ini ada PT. Inco sebagai perusahaan yang bergerak pada
tambang Nikel dan Besi, itu bisa jadi bukti bahwa luwu adalah pusat besi dan
nikel.
Hubungan Luwu-Majapahit dapat kita
identifikasi dari masa Datu Luwu ke-3 sampai Datu Luwu ke-4 sebagaimana
disebutkan sebelumnya. Anakaji ketika dewasa, menikah dengan putri Majapahit
yang punya paras seperti putri Cina. Kisah pernikahan mereka terdapat dalam
lontara berbunyi, “na iya manurungnge ri
majampai, (Adapun yang muncul di Majapahit,) iyana riaseng Selamalama
(dinamakan Selamalama) iyana siala Batara Weli (yang kawin dengan Batara Weli)
najaji Tappacina (maka lahir lah Tappacina/berparas cina) iyana siala Anakaji
(dia lah ini yang kawin dengan Anakaji)”.
Menurut
sejarahwan HD. Mengemba bahwa Istri Anakaji bersaudara dengan Swan Leong yang
bersaudara tiri dengan Ratu Suhita yang mewarisi tahta Majapahit setelah
Wikrawardhana mangkat. Tidak banyak yang mengetahui bahwa sejak lama Luwu
sebagai kerajaan terbesar pra Islam di Sulawesi menjalin hubungan kekerabatan
dengan Majapahit yang pada masa itu merupakan kerajaan terbesar di pulau Jawa
(Indra Sastrawat: 2015).
Lalu
apa yang mendorong kedua kerajaan ini membuat aliansi, salah satunya kemunginannya
adalah kepentingan ekonomi? Majapahit membutuhkan sebuah benda yang sangat
berharga dari Negeri Luwu yaitu “besi”. Menurut Iwan Sumantri, besi Luwu sangat
populer karena adanya kandungan nikel yang membuat kualitas besi menjadi ringan
dengan titik didih yang rendah. Besi
dengan campuran kandungan nikel menjadi bahan baku yang bagus untuk pembuatan
keris.
Pada
abad 13 hingga akhir 14, Luwu mengekspor besi ke kerajaan Majapahit. Saat itu
Majapahit membutuhkan besi dalam jumlah besar untuk ekspansi militer mereka ke
Sumatera, Kalimantan dan Sunda Kecil. Hal tersebut diperkuat oleh Penelitian
DR. Anthony Red menyatakan bahwa besi di Majapahit berasal dari besi Luwu. Yang
mengindikasikan bahwa antara Kerajaan Luwu dan Majapahit pernah menjalin
hubungan bilateral.
Timbul
satu pertanyaan kritis, apa benar Kerajaan Majapahit menguasai seluruh
nusantara? Perlu di ingat, bahwa dalam tradisi Kerajaan Luwu – ada semacam
larangan untuk menikahkankan anak Putrinya dengan seorang Raja yang bukan dari
keturunan Luwu. Bagi mereka, menikahkan putri Luwu dengan Raja luar Luwu – itu
merupakan simbol ketundukkan kepada raja tersebut. Sebaliknya, Raja Luwu
diperbolehkan menikahi seorang putri dari kerajaan luar Luwu, karena itu adalah
simbol hegemoni luwu terhadap kerajaan tersebut. Disini, ada satu bukti
historis yang cukup menarik diperdebatkan – dimana Anakaji Raja Luwu IV,
menikahi seorang putri dari kerajaan Majapahit yang dijuluki We Tappacina. Maka
pertanyaannya, siapa yang menghegemoni siapa? kekuatan ada dimana, apakah
secara politis dan ekonomi Luwu lebih
kuat daripada Majapahit, atau sebaliknya Luwu berada di bawah hegemoni
Majapahit? Atau secara politik kekuatannya berimbang? Mungkin jawaban mendekati
kebenaran adalah dua kerajaan besar tersebut (Luwu dan Majapahit) sama-sama
berada pada posisi yang kuat, baik secara politik, ekonomi, maupun dari segi
militer. Jika demikian, lalu kenapa kerajaaan Majapahit menikahkan Putrinya
dengan Anakaji Raja Luwu IV? Saya tidak ingin mengatakan bahwa secara
perimbangan kekuatan – kerajaan Luwu lebih kuat dari Majapahit, namun
kemungkinan indikasi itu ada.
Sebagaimana
diketahui, tidak ada catatan sejarah yang bisa dijadikan acuan bahwa kerajaan
Luwu berada di bawah hegemoni kerajaan Majapahit. Disini, dapat kita katakan
bahwa Kerajaan Luwu di Sulawesi Selatan tidak pernah tunduk di bawah kerajaan
Majapahit, namun kontak antara Majapahit dan Luwu hanya sebatas pada hubungan
dan koalisi ekonomi/dagang, utamanya pada sektor perdagangan besi. Maka
ekspedisi Majapahit ke Luwu kemungkinan besar untuk memenuhi kebutuhan mereka
akan besi, tiada lain adalah untuk pembuatan senjata perang semisal, keris,
dll.
Maka
perlu diluruskan bahwa kedatangan balatentara kerajaan Majapahit seperti yang tertulis
dalam teks Negarakertagama karya Mpu Prapanca adalah untuk kepentingan ekonomi
bukan ekspansi militer. Jadi, kerajaan-kerajaan di Sulawesi Selatan tidak
pernah berada dalam pengaruh kerajaan Majapahit. Sampai sekarang tidak ada
satu-pun bukti arkelogi atau teks lontara yang menyebutkan telah terjadi perang
antara Majapahit dengan kerajaan di Sulawesi pada masa itu. Jadi, kalau kita
kembali kepada makna Nusantara sebagai keseluruhan kepulauan yang berada dalam
kawasan NKRI, maka klaim sejarah yang mengatakan Kerajaan Majapahit menguasai
seluruh Nusantara dapat kita gugurkan, karena kembali ke data sejarah baik
dalam kitab I Laga Ligo dan Kitab Negarakertagama sama sekali tidak ada
catatan sejarah bahwa Raja Luwu termasuk Makassar dan Bone berada dalam
kekuasaan Kerajaan Majapahit. Jadi aksioma tentang Kerajaan Majapahit menguasai
seluruh kepulauan Nusantara adalah mitos yang sama sekali jauh dari kebenaran,
baik kebenaran secara logis maupun ilmiah. Karena sama sekali tidak ada
jejak-jejak erkeologis atau peninggalan sejarah Kerajaan Majapahit di Sulawesi
Selatan baik pada wilayah Makassar, Luwu, dan Bone. Satu hal yang perlu kita
catat bahwa istana Kerajaan Luwu masih berdiri kokoh di kota Palopo, bagitupun
Gowa dengan Benteng Somba Opu-nya, sedangkan Letak istana kerajaan Majapahit
kehilangan jejak dan para ahli sejarah belum menemukan secara tepat dimana
letak dan kepastian posisinya. Adalah ironi sejarah, sebuah kerajaan yang di
klaim sebagai kerajaan besar namun kehilangan jejak-jejak historisnya.
Kesimpulan
Sebuah teks sejarah tidak bisa diterima
begitu saja secara aksioma tanpa ada upaya kritis, karena menerima sejarah begitu saja
sama halnya menjatuhkan diri ke dalam simulasi yang dibaliknya sarat dengan
kepentingan dan dominasi, akhirnya kita tenggelam ke dalam idealisme yang
menerima teks sebagai sandaran kebenaran padahal teks tersebut seharusnya
dibongkar dan dikonfirmasi kebenarannya. Oleh kerana itu, idea tentang
kerajaaan Majapahit sebagai penguasa Nusantara yang sampai saat ini diyakini
secara aksioma – bagi penulis itu merupakan klaim sejarah yang berangkat dari
simulasi sejarah yang penuh dengan reduksi dan distorsi untuk tidak mengatakan
bahwa itu adalah mitos yang tidak bisa dipertanggujawabkan secara logis maupun
ilmiah. karena jika kita konsisten menerima makna Nusantara sebagai keseluruhan
kepulauan yang berada dalam wilayah NKRI, maka gugurlah klaim sejarah tersebut
di atas karena tidak ada bukti sejarah bahwa Kerajaan Luwu dan kerajaan lainnya
di Sulawesi selatan berada di bawah hegemoni dan dominasi Majapahit.
https://kokonatsutrrrrrrrrrrrrr.blogspot.sg/2017/12/sifat-jelek-berdasarkan-zodiak-cek.html
BalasHapushttps://kokonatsutrrrrrrrrrrrrr.blogspot.sg/2017/12/8-cara-fast-food-membunuh-anda-secara.html
https://kokonatsutrrrrrrrrrrrrr.blogspot.sg/2017/12/usai-vaksin-dbd-997-anak-si-filipina.html
Taipan Indonesia | Taipan Asia | Bandar Taipan | BandarQ Online
SITUS JUDI KARTU ONLINE EKSKLUSIF UNTUK PARA BOS-BOS
Kami tantang para bos semua yang suka bermain kartu
dengan kemungkinan menang sangat besar.
Dengan minimal Deposit hanya Rp 20.000,-
Cukup Dengan 1 user ID sudah bisa bermain 7 Games.
• AduQ
• BandarQ
• Capsa
• Domino99
• Poker
• Bandarpoker.
• Sakong
Kami juga akan memudahkan anda untuk pembuatan ID dengan registrasi secara gratis.
Untuk proses DEPO & WITHDRAW langsung ditangani oleh
customer service kami yang profesional dan ramah.
NO SYSTEM ROBOT!!! 100 % PLAYER Vs PLAYER
Anda Juga Dapat Memainkannya Via Android / IPhone / IPad
Untuk info lebih jelas silahkan hubungi CS kami-Online 24jam !!
• FaceBook : @TaipanQQinfo
• WA :+62 813 8217 0873
• BB : D60E4A61
Come & Join Us!!
Menarik ulasan yang Anda sajikan di atas. Metode penulisannya juga sudah mewakili ulasannya. Hanya saja dalam konteks lain, apa yang Anda tulis di atas tentu berbeda yang dipahami oleh pihak lain.
BalasHapusKatakanlah dalam Teori Raltivisme, apa yang disajikan oleh penulis dalam naskah I La Galigo merupakan kebenaran relativisme. Artinya bahwa kita memandang benar apa yang dipahami oleh masyarakat pendukung sejarah atau kebudayaan itu berdasarkan pemahaman dan keyakinan mereka. Seperti, masyarakat pendukung sejarah itu memahami bahwa Batara Guru adalah Dewa, maka dalam teori relativisme maka kita harus memahami hal tersebut sebagai kebenaran teori tersebut.
Namun jika hal tersebut dibawa ke pendekatan atau pandangan Derrida, maka apa yang Andi tulis di atas kita dapat maknai sebagai sebuah kebenaran lain.
Tapi setidaknya saya mengapresiasi tulisan Anda ...