Filsafat Realisme ; HMI dan Pak Saut
Setelah Permohonan Maaf (bagian 3- habis)
Setelah Permohonan Maaf (bagian 3- habis)
Oleh: A.M. Safwan- Jaringan Aktivis Filsafat Islam (JAKFI)
Sampai pada bagian ini, kita memandang persoalan HMI dan Pak Saut
berada dalam 2 kemungkinan: 1. Kemungkinan yang logis adalah DIALOG
untuk memahami apa yang dimaksud Pak Saut bahwa beliau tidak bermaksud
menyinggung HMI dan pernyataannya disalahpahami? 2. Kemungkinan aktual
dalam situasi di mana PB HMI telah resmi melaporkan Pak Saut ke
Bareskrim Polri adalah proses hukum. Jalan permulaan yang logis adalah
dialog dan selanjutnya kemungkinan aktual melalui jalur hukum. Menurut
saya sampai di sini pemetaan masalah sudah jelas. Sekarang tentu
menurut saya, kita perlu memberi perspektif bagaimana memahami kejadian
ini untuk HMI ke depan? Perspektif yang saya gunakan adalah Filsafat
Realisme.
Secara sederhana, filsafat realisme adalah sebuah
pandangan rasional yang melihat persoalan yang nilainya pada realitas
objektif di luar pikiran/kesadaran manusia. Secara sederhana, filsafat
realisme ingin menempatkan nilai dari sebuah masalah pada realitas alam
(realitas sosial) bukan pada pikiran-pikiran para aktivis HMI, para
pendukung atau pembelanya, agar masalah ini menemukan jalan
penyelesaiannya secara objektif (objektvikasi) di luar pikiran manusia
dan selanjutnya dapat dibawa dalam agenda HMI ke depan dalam struktur
sosial. Masa depan tentu berhubungan dengan realitas objektif yang
dinilai dalam kedua kemungkinan di atas (logis dan aktual). Tentu kita
tidak mencari objektivitas pada pikiran para pendukung atau pembelanya,
tetapi pada realitas sosial di alam ini dalam kedua kemungkinan tersebut
: dialog dan jalur hukum.
Realitas objektif HMI: 1. HMI sebagai
lembaga mahasiswa Islam telah memiliki peran secara sosial politik
sampai tingkat nasional , 2. HMI sebagai lembaga adalah organisasi yang
kondusif bagi tumbuhnya beragam corak dan mazhab pemikiran Islam karena
watak Islamnya yang inklusif dan toleran sebagaimana ditunjukkan dalam
nilai dasar perjuangannya, 3. HMI memiliki kaitan yang panjang dalam
dinamika sejarah dan perkembangan masyarakat dan bangsa Indonesia.
Dengan pandangan realisme tersebut maka mungkin bagi HMI (sebagaimana
yang juga dipikirkan oleh teman-teman HMI): 1. Untuk mengambil sikap
yang lebih progressif dan tegas kepada para pemangku kebijakan dalam
menanggapi isu-isu sosial masyarakat yang mengambil perhatian publik
yang besar seperti: terorisme, narkoba, korupsi, intoleransi dan
radikalisme Islam, lingkungan, isu HAM. (sebagai kekuatan kritis
misalnya dalam corak ideologi kaum intelektualnya Ali Syariati) 2.
Mempertegas nilai dasar perjuangannya yang berbasis pada kekhasan
pandangan dunia Islam yang terbuka/inklusif dan berpihak pada kaum yang
tertindas atas nama kemanusiaan untuk tujusn menegakkan keadilan. 3.
Membangun dan meletakkan tugas dan strategi advokasi yang lebih
sistematis dan kontinu pada persoalan di tengah masyarakat, 4. Perlu
memberikan pengaruh paradigma Islam yang inklusif, kritis dan progressif
kepada kaum Muda Islam dengan menggandeng para pemangku kepentingan, 5.
Semua itu akan dapat maksimal jika ditunjang dengan sebuah sistem
pengkaderan yang lebih fundamental secara filosofis, sekaligus penemuan
kerangka metodologi gerakan sosial baru berdasarkan analisis dan
struktur sosial Islam (Mustadh’afin/gerakan kaum tertindas tanpa harus
menjadi gerakan kelas)
Dasar dan tujuan penjelasan ini juga
dapat kita simak pada penjelasan Dr. Kuntowijoyo, cendikiawan Islam
Indonesia penulis buku terkenal Paradigma Islam; Interpretasi untuk
Aksi, 1991) pada ceramahnya di HMI Komisariat Fakultas Syariah
Universitas Islam Indonesia Yogyakarta pada 11 september 1988 tentang
Islam dan Kelas Sosial. Kuntowijoyo menyatakan sebagaimana yang lazim
dalam kajian-kajian di HMI bahwa banyak pemimpin Islam kita di Indonesia
tidak mengetahui dengan baik kenyataan-kenyataan empiris mengenai
adanya stratifikasi, diferensiasi, maupun polarisasi sosial yang terjadi
dalam masyarakat. Banyaka dari para ulama kita kata Kuntowijoyo,
cenderung tidak memahami realitas sosial, maka mereka secara empiris
kemudian tidak dapat melihat siapa yang lemah dan siapa yang tertindas
(mustadh’afin), mereka seringkali jarang melihat proses-proses
penindasan yang bersifat struktural terhadap para petani dan buruh.
Konsekuensinya agama yang mereka anut dan bawa ke masyarakat menjadi
tidak fungsional secara sosial dan hanya menjadi atribut kesalehan
pribadi.
Akibat lebih jauh menurut saya, agama yang mereka bawa
yang tidak memiliki fungsi sosial yang efektif secara struktural dan
kultural akan lebih banyak terjebak dalam bahasa politik dan kekuasaan.
Oleh karenanya logikannya bukan lagi umat tetapi kelompok umat, sehingga
terjadi penyimpangan misi Islam untuk perjuangan universal (kemanusiaan
dan keadilan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa)
Dengan
pemahaman filsafat realisme tersebut dan kesadaran atas kekuatan dan
potensi besar HMI untuk ikut membangun bangsa ini, maka momentum
kejadian dengan Pak Saut ini dapat menjadi jalan menegaskan pandangan
dan sikap HMI untuk ikut berperan penting dan aktif dalam ikut membantu
menyelesaikan persoalan-persoalan kebangsaan seperti yang masih menjadi
agenda yang belum selesai dalam sebuah kerangka gerakan sosial Islam.
Beberapa persoalan sosial penting yang perlu dipertimbangkan untuk
didesakkan untuk dituntaskan secara sosial yang memiliki relevansi
dalam upaya mencegah polarisasi sosial yaitu : 1. Para penganut
Ahmadiyah dan Syiah dan yang sudah bertahun-tahun hingga saat ini di
pengungsian, 2. Sikap HMI terhadap organisasi-organisasi yang dikesankan
atau ditunjukkan secara jelas menolak demokrasi dan asas Pancasila, 3.
Organisasi-organisasi yang melakukan usaha untuk mencapai tujuannnya
seringkali menggunakan cara-cara kekerasan dan anarki, 4. Isu ISIS dan
radikalisme Islam transnasional, 5. Sikap secara sosial terhadap
kekerasan terhadap perempuan dan anak serta isu HAM lainnya seperti
penggusuran oleh karena kepentingan para pemiik modal seperti dalam
kasus-kasus reklamasi, kasus Munir.
Teman-teman HMI saya yakin
jauh lebih mengerti, persoalan dan tantangannya dalam, periode panjang
HMI dan momentum kasus Pak Saut adalah jalan baru membangun
objektivikasi sosial dalam dalam struktur sosial berdasarkan pandangan
dunia Islam. Sehingga dapat diperkuat dan dipertegas gerakan pemihakan
kepada kaum tertindas tanpa harus menjadi gerakan kelas. Semoga
momentum ini dapat dimanfaatkan dengan baik, oleh karena situasi gerakan
sosial Islam menurut saya membutuhkan sebuah tafsir baru yang lebih
progressif dan berpihak (intelektual aktitivis, intelektual organik,
gerakan kaum tertindas, ideologi kaum intelektual) dan meletakkannya
dalam filsafat yang realistik dalam struktur sosial bukan hanya terbatas
dalam pikiran para penggeraknya saja (idealistik)
Wallahu’alam bi al shawab
Salam atas Rasul al Mustafa Muhammad Saw.
Salam atas Rasul al Mustafa Muhammad Saw.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar