ST.
SUNARDI: TERJEBAK DALAM SIMULACRA (SIMULASI)
DAN
HIPERREALITAS
(Pendekatan
Simulasi dan Hiperrealitas Jean Baudrillard)
Oleh:
Fajar W. Hajer
A.
Pendahuluan
Tulisan ini akan
mencoba memahami tulisan singkat St. Sunardi dengan judul “Filsafat Naratif
atau Narasi Filosofis? Nasib Filsafat dalam Budaya Postmodern”. Nanti kita akan
melihat dalam narasinya, bahwa St. Sunardi berusaha memahami narasi atau sebuah
sudut pandang postmodernisme yang ditawarkan oleh Prof. Jo Verhaar, yang begitu
dipujanya mengenai beberapa isu atau wacana yang tentunya mengarah pada pengarusutamaan
ide-ide tentang post-modernitas. Dapat kita pahami bahwa Verhaar berusaha menafsirkan
realitas sosial dengan sudut pandang post-modernisme, begitupun St. Sunardi
juga larut dalam derasnya sungai postmodernitas dengan segala sikapnya yang
mengamini seluruh narasi Verhaar. Dalam hal ini, saya pun sebagai penafsir atau
lebih tepatnya sebagai komentator atas tulisan singkat St. Sunardi – juga akan
berusaha ambil bagian dalam arus logika postmodern untuk melihat dan meninjau
tulisan singkat St. Sunardi sagaimana dimaksudkan di atas.
Karena ini adalah
tafsiran atas sebuah realitas yang dibingkai dalam sebuah narasi
postmodernitas, maka sesungguhnya ketika suatu realitas sosial budaya ditarik
ke dalam sebuah narasi – saat itu pulalah terjadi apa yang disebut oleh Jean
Baudrillard dalam Akyar Yusuf lubis (2014) sebagai proses Simulacra (simulacrum-simulasi), adalah sebuah
dunia/realitas yang dibentuk oleh berbagai hubungan tanda dan kode secara acak
tanpa acuan (referensi) yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta)
yang terbentuk melalui proses reproduksi, serta tanda semu (citra) yang
tercipta dari proses reproduksi. Dalam dunia kebudayaan simulasi, realitas
faktual dan citraan berjalin dan berbaur atau menumpuk. Dalam proses simulasi
(simulacra) ini, kita tidak lagi dapat membedakan secara tegas mana yang asli,
yang fakta, yang palsu, dan yang semu.
Jadi, penafsiran S.t
Sunardi terhadap teks Verhaar tentang (Filsafat yang berkesudahan) – dapat kita
katakan dan atau tanpa sadar telah melalui poses simulacra (simulasi), dimana tafsiran
St. Sunardi terhadap Verhaar tidak lagi bisa dilihat sebagai fakta (baca:
realitas pertama) melainkan ia citraan (realitas kedua) yang sudah mengandung
konstruksi subjektif penafsir. Dan saya sendiri sebagai kementator atas tulisan
St. Sunardi – berada pada posisi ketiga proses simulacrum yang tentunya akan
semakin mengaburkan realitas riel atas pemikiran Verhaar. Mungkin contoh
berikut memudahkan memahami proses simulacrum Baudrillard, misalnya: Alam
sebagai realitas/fakta (misalnya, gunung), gunung tersebut dilukis oleh
Verhaar, kemudian lukisan Verhaar dilukis ulang oleh St. Sunardi, dan kemudian lukisan St. Sunardi dilukis ulang
Fajar – itulah yang disebut proses simulasi (simulacrum) dimana realitas beralih
ke dalam citra (kepalsuan/tiruan/modefikasi) sehingga kehilangan wujud aslinya
akibat simulasi si subjek maka terjadilah heperrealitas yang menegasi yang real.
Maka tanpa sadar yang kita terima hanya citra (bayangan) sedangkan wujud
rielnya tereduksi oleh simulasi dan kehilangan eksistensinya sehingga yang ada
adalah kepalsuan atau hiperrealitas.
B.
Pembahasan
1.
Diprofesionalisasi
Filsafat
Secara
khusus St. Sunardi dalam artikel pendeknya tersebut membahas beberapa isu
terkait dengan pemikiran Verhaar dalam bukunya yang memuat beberapa tulisan Filsafat yang Berkesudahan (1999). Dalam
buku tersebut Verhaar sebagaimana dalam narasi St. Sunardi, masuk dalam
perdebatan atau diskursus tentang apa sebaiknya tugas sosial filsafat dalam
masyarakat pluralistik, dan khsususnya perdebatan tentang purnamodernisme.
Dalam hal ini Verhaar, demikian diungkapkan St. Sunardi – lebih besikap
pragrmatis dalam mendekati filsafat. Yakni filsafat diukur dari fungsinya bagi
masyarakat, bukan dari banyak “sofia” yang dikumpulkan. Fungsi ini dilihat
sebagai zaman yang disebut sebagai postmodern dengan salah satu coraknya yang
mencolok, yaitu pluralistik.
Jadi,
filsafat berkesudahan merupakan kritik atas filsafat perennial (philosophia parennis) dari abad
pertengahan, yaitu sebuah model filsafat yang meyakini bahwa setiap agama di
dunia memiliki suatu kebenaran yang tunggal dan universal dan merupakan dasar
bagi semua pengetahuan dan doktrin relegius. Fungsi filsafat berkesudahan tentu
berbeda dengan fungsi filsafat sebelumnya yang berorientasi pada kebijaksanaan
(sofia), mencari kepastian pengetahuan, atau menyediakan ajaran yang paling
sehat bagi Negara. Sebagai gantinya, kini tugas filsafat tidak lebih daripada
menjalankan fungsi “penaksir, pendamai, penemu cara yang dapat diterima oleh
semua”. Model filsafat ini (filsafat berkesudahan) menggunakan filsafat bahasa
sebagai basisnya dan pragmatisme sebagai prinsipnya.
Dapat
kita pahami bahwa filsafat model ini ingin menemukan relevansi antara aspek
teoritis dan aspek praktis dari sebuah bangunan filsafat – yakni sejauh mana
bangunan filsafat tersebut mempengaruhi tindakan seseorang dalam hubungannya sebagai makhluk sosial.
2.
Simulasi
Narasi yang Berujung pada Heperrealitas
Pada kesempatan ini
saya sebagai komentator St. Sunardi – akan melakukan upaya untuk menelaah lebih
dalam dimana posisi St. Sunardi sebagai komentator atas tulisan Verhaar.
Verhaar seorang pemikir postmodernis berusaha memotret paradigma postmodernisme
sebagai basis pijakan dalam memahami realitas sosial-budaya yang cendurung
bergerak ke arah ambigiutas, pluralitas, dan pragmentasi. Dalam hal ini apakah
St. Sunardi sebagai penafsir atas pemikiran Verhaar mampu keluar dari Simulacra
(simulasi) wacana yang dibangun oleh Verhaar atau malah tenggelam dalam
simulasi tersebut, yakni mendukung tanpa ada upaya kritis atasnya. Jika
demikian, tentu hipotesis kita atas St. Sunardi adalah dia pengagum teks Verhaar
yang tenggelam dalam arus simulasi lontaran wacana postmodernisme Verhaar
sehingga yang dia dapatkan hanyalah hiperrealitas.
Verhaar, sebagaimana
diungkapkan St. Sunardi dalam narasinya, mengingatkan kita akan tiga hal yang
perlu dipertimbangkan oleh seorang intelektual yang hidup dalam paradigma kultural
postmodernisme yang masih agak baru ini, yaitu: (1) melepaskan diri dari
elitisme sosial; (2) harus dapat hidup dengan sketisisme atas dasar
kekontingenan eksistensi manusia; (3) bersedia berdialog lintas keyakinan atau
lintas agama dan dengan mereka yang tidak beriman sama sekali.
a.
De-elitisasi
Elit
berarti kelompok kecil, pilihan. Elit sosial merupakan konsekuensi dari
profesionalisasi ilmu-ilmu. Dalam paradigma budaya postmodern, tugas
“negatif” dari kaum cendekiawan adalah
melepaskan diri dari status elitnya. Verhaar sebagaimana dijelaskan St. Sunardi
– dengan keras memperingatkan “para ahli jangan sampai menjual diri kepada
instansi yang berkuasa tanpa syarat-syarat yang ketat dan jelas. Peringatan
tersebut, ungkap St. Sunardi, secara tidak langsung merupakan kritik atas
Negara liberal modern yang menempatkan diri sebagai sumber pengetahuan.
Sentralitas pendidikan pada Negara mengasumsikan bahwa Negara adalah sumber
pengetahuan dan para pengajar hanya mengajarkan bahan-bahan yang sudah
ditentukan oleh Negara menggunakan tenaga para cendekiawan yang dianggap “ahli
dalam hal memakai rasio atau ahli dalam bidang ide-ide (St. Sunardi: 363). Hal
itu kemudian memunculkan para ilmuan berwatak instrumentalis (rasio
instrumental), dimana mereka berlomba-lomba agar ilmunya dijadikan bahan
pendidikan yang berlaku secara rasional.
Menurut St. Sunardi –
seruan Verhaar kepada para ilmuan untuk tidak menjadi penindas rakyat yang
secara ideologis meskipun menindas dengan ide-ide yang bagus. Karena Verhaar
beranggapan bahwa nalar postmodernisme, tidak ingin lagi adanya karya
intelektual yang ‘instrumental’ demi kuasa politik. Lanjut St. Sunardi, inti
gagasan “de-elitisasi” ilmuan ini pada prinsipnya adalah untuk menghindarkan
agar ilmuan dan ilmunya tidak dipakai sebagai alat untuk “mendapatkan atau
mempertahankan kekuasaan”. Singkatnya St. Sunardi ingin menyampaikan bahwa
kecenderungan elitisasi merupakan kecenderungan untuk membentuk sebuah teori
besar (grand theory) dengan asumsi
bahwa dalam teori besar itu kepastian bisa mendekati absolitisme. Karena
seorang yang menghasilkan teori besar bisa menikmati status elit dan
orang-orang lain menjadi pengekor atau pengajar.
Maka sebagai gantinya,
kata St. Sunardi, ilmuan postmodern siap
menjelaskan fenomena-fenomena partikular dengan pejelasan yang memadai. Tidak
harus mengacu kepada grand theory, namun sebaiknya ia harus membuka diri dengan
berbagai macam pendekatan atau multi pendekatan agar sebuah ilmu tidak
terdistorsi oleh gagasan yang cenderung untuk menguasai atau deterministik.
b.
Skeptis
Kenisyaan
menjadi skeptis adalah kosekuensi dari krisis kepercayaan akan kepastian
absolut. Dalam hal ini St. Sunardi menyetir Verhaar: “pecarian kepastian lahir
dari keinginan untuk mengatasi skeptisisme. Keinginan tersebut berasal dari
rasa cemas. Kaum postmodernisme secara rutin memakai istilah ‘kecemasan
Cartesian’. Dalam kerangka postmodern, skeptisisme tidak menjadi soal. Kata
Verhaar, kita kan manusia kecil, makhluk yang terbatas. Dan skeptisisme dapat
juga membuka jalan untuk yang tak terduga. Sebaliknya, kepastian dapat saja
menutup pintu”.
Simulasi (simulacrum)
konsep skeptis Verhaar tersebut diamini oleh St. Sunardi dengan mengutip ucapan
seorang Zen yang mengatakan “satu-satunya yang paling berharga dalam hidup
adalah ketidakpastian hidup”. Menurutnya, obsesi akan kepastian adalah warisan
kegelisahan Descartes yang tidak tahan tinggal di hadapan keragu-raguan sampai
akhirnya ia menemukan kepastian absolut: Cogito
ergo sum – saya berfikir maka saya ada.
Lanjutnya,
postmodernisme, sebaliknya, lebih terobsesi pada skeptisisme agar hidupnya
lebih terbuka. Hidup menurutnya, layaknya puisi yang perlu diteruskan dan
bukannya sebuah kalimat (sententia) sempurna yang tidak bisa diubah. Yakni hidup bukanlah sesuatu
yang harus diteorisasi melainkan dikisahkan. Namun, kisah kehidupan bukanlah
kisah dengan struktur mapan, melainkan kisah yang unstructured, belum selesai, dan
tak akan pernah selesai. Bukan karena kita tidak mampu menyelesaikannya,
melainkan karena tidak ada yang diselesaikan!
Dari dasar itu, St.
Sunardi mengukuhkan skeptisisme sebagaimana Verhaar melakukannya, oleh karena
itu dia menyerukan agar seorang ilmuan harus skeptis dalam arti bahwa ia harus
siap melihat ketidakpastian atau ketidaklengkapan hidup dan oleh karena itu
harus dilengkapi seolah-olah bisa lengkap. Lanjut St. Sunardi, sikap
skeptisisme merupakan sikap pragmatis dan strategis bagi para ilmuan berhadapan
dengan persoalan kebenaran absolut. Sikap ini dapat membuat filsafat lebih
berguna dalam waktu dan masyarakat tertentu (filsafat lalu menjadi filsafat
berkesudahan) daripada filsafat yang terobsesi pada dengan kebenaran absolut
(filsafat perenial atau filsafat yang mengelak).
c.
Dialog untuk Solidaritas
Selain melepaskan
elitisisme dan perlunya berisikap skeptis, seorang ilmuan juga perlu melakukan
dialog terus menerus, dengan “mereka yang berkeyakinan imani lain dan dengan
mereka yang tidak beriman sama sekali”. Ajakan St. Sunardi diatas, mengacu
kepada pandangan Verhaar tentang sebuah masyarakat liberal yang plural yaitu
“masyarakat politik, atas dasar pemerintahan ‘nasional’, sedemikian rupa
sehingga keyakinan religius, filosofis, moral, politik (dan tentunya keempat
jenis keyakinan ini saling berhubungan dengan erat) dijamin kebebasannya, atas
syarat keyakinan tersebut tidak dipaksakan pada warga lain di dalam
masyarakat”.
Karena menurut St.
Sunardi, dalam masyarakat plural kita senantiasa dibayang-bayangi oleh berbagai
bentuk hubungan antagonistik, yaitu bentuk hubungan yang saling meniadakan.
Oleh karena itu menurutnya, masyarakat plural bukan hanya merupakan jawaban
romantis terhadap kebebasan, melainkan juga meliputi tanggungjawab untuk
menjaga agar masyarakat plural tidak menghancurkan dirinya sendiri.
Menurutnya, Disinilah
fungsi filsafat perlu dirumuskan kembali, yakni upaya mengarahkanya untuk
menghindarkan terjadinya konflik yang mematikan dan/atau mematikan solidaritas.
Dalam hal ini St. Sunardi mengutip sebuah narasi dari Verhaar, “Yang kini diperlukan rasanya adalah
filsafat naratif yang menceritakan tentang kisah orang LAIN tentang pengisah,
menghasilkan kisah baru tentang pengisah oleh pengisah, yang kini dapat
membebaskan diri dari si LAIN sebagai penguasa, dan menemui yang lain sebagai
teman, sebagai pelengkap, sebagai perspektif, dan sebagai harapan”.
St. Sunardi sejalan
dengan narasi Verhaar dan menegaskan; jalan dialog adalah narasi, dan tujuan
dialog adalah membebaskan diri dari kekuasaan orang lain supaya dia menjadi teman
dan harapan. Tugas inilah yang sering disebut dilingkungan para postmodernis
dengan istilah “politik liyan” (politics
of the other).
Maka menurut St.
Sunardi, untuk situasi Indonesia di tengah-tengah konflik sosial dan politik
sekarang ini, kita masih bisa mengharapkan munculnya sebuah masyarakat
Indonesia yang plural sejauh kebangkitan sastra dan kritik sastra (baik
dilingkungan akademik maupun di luar) kita tempatkan dalam menumbuhkan
solidaritas.
C.
Kesimpulan
St. Sunardi sebagai
penafsir teks Verhaar bisa dikatakan tenggelam dalam simulacrum, walaupun kita
tahu bahwa dia pada dasarnya hanya mendeskripsikan pemikiran Verhaar. Namun, sekedar
mendeskripsikan tanpa kritik itulah yang
membuat ia jatuh dalam simulasi dan hiperrealitas. Dimana ia menerima seleluruh
gagasan Verhaar tanpa ada kritik mendasar atasnya. Simulacrum (simulasi)
terjadi dimulai ketika Verhaar berusaha melukiskan narasinya tentang
postmodernisme dalam bentuk teks, yang kemudian dilukiskan kembali oleh St.
Sunardi secara deskriptif tanpa ada bantahan sama sekali, yang menandakan bahwa
St. Sunardi mengiyakan/membenarkan seluruh simulasi (gagasan) Verhaar sebagai
sebuah kebenaran atau paling tidak sebagai gagasan yang layak diterima. Namun
sesungguhnya tanpa sadar ia tenggelam dalam hiperrealitas gagasan atau
idea-idea tiruan yang tidak lagi memiliki persambungan dengan realitas.
Dia seakan lupa bahwa
gagasan Verhaar itu adalah citraan dari apa yang ia pahami tentang realitas
sosial cultural postmodernitas. Jika ia citraan, maka sudah pasti bukan realitas,
melainkan ia pahaman yang diobjektifikasi ke dalam sebuah narasi. Namun
begitulah simulacrum ia hadir sebagai sebagai susuatu yang indah dari wujud
aslinya sehingga ia sangat potensial menenggelamkan kita ke dalam hiperreliatas
yang sajatinya asli/benar tapi pada hakikatnya ia bukanlah yang real tapi
proses simulasi membuatnya menjadi lebih benar dari kebenaran. Maka dibutuhkan
nalar kritis untuk membongkarnya,
sebagaimana kita harus kritis atas simulasi atau narasi keilmuan dari
para ilmuan.
Penulis berpendapat
bahwa, apa yang disampaikan St. Sunardi pada paragraf terakhir tulisannya, itu
bukanlah kritik melainkan itu sekedar saran, bahwa kontingensi ekonomi juga
penting diulas dan dinarasikan. Jadi, kita bisa saja menilai bahwa St. Sunardi
berusaha menggiring kita untuk berfikir dengan logika postmodernisme tapi ia
sendiri jatuh ke dalam logika berfikir a
la modern, kenapa demikian – karena ia sendiri jatuh ke dalam kemapanan berfikir
dengan mendukung secara vulgar konsep-konsep atau simulasi pemikiran Verhaar.
Bukankah postmodernisme tidak menghendaki kemapanan? Menolak meta teori, serta
mengedepankan kritisisme, menghendaki keragaman dan pluralitas, dan
mengedepankan multi pendekatan dalam memahami realitas sosial budaya? Maka yang
dibutuhkan bukan hanya deskripsi atas teks atau narasi melainkan juga harus ada upaya untuk mengkritisi
teks atau narasi keilmuan para ilmuan agar lahir gagasan atau konsep baru yang
juga bisa di tawarkan dalam wacana dan perdebatan keilmuan.
Wallahu A’lam
bissawab….!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar