Selasa, 24 Mei 2016

ST. SUNARDI: TERJEBAK DALAM SIMULACRA (SIMULASI) DAN HIPERREALITAS (Pendekatan Simulasi dan Hiperrealitas Jean Baudrillard)


ST. SUNARDI: TERJEBAK DALAM SIMULACRA (SIMULASI)
DAN HIPERREALITAS
(Pendekatan Simulasi dan Hiperrealitas Jean Baudrillard)
Oleh: Fajar W. Hajer
A.    Pendahuluan
Tulisan ini akan mencoba memahami tulisan singkat St. Sunardi dengan judul “Filsafat Naratif atau Narasi Filosofis? Nasib Filsafat dalam Budaya Postmodern”. Nanti kita akan melihat dalam narasinya, bahwa St. Sunardi berusaha memahami narasi atau sebuah sudut pandang postmodernisme yang ditawarkan oleh Prof. Jo Verhaar, yang begitu dipujanya mengenai beberapa isu atau wacana yang tentunya mengarah pada pengarusutamaan ide-ide tentang post-modernitas. Dapat kita pahami bahwa Verhaar berusaha menafsirkan realitas sosial dengan sudut pandang post-modernisme, begitupun St. Sunardi juga larut dalam derasnya sungai postmodernitas dengan segala sikapnya yang mengamini seluruh narasi Verhaar. Dalam hal ini, saya pun sebagai penafsir atau lebih tepatnya sebagai komentator atas tulisan singkat St. Sunardi – juga akan berusaha ambil bagian dalam arus logika postmodern untuk melihat dan meninjau tulisan singkat St. Sunardi sagaimana dimaksudkan di atas.
Karena ini adalah tafsiran atas sebuah realitas yang dibingkai dalam sebuah narasi postmodernitas, maka sesungguhnya ketika suatu realitas sosial budaya ditarik ke dalam sebuah narasi – saat itu pulalah terjadi apa yang disebut oleh Jean Baudrillard dalam Akyar Yusuf lubis (2014) sebagai proses Simulacra (simulacrum-simulasi), adalah sebuah dunia/realitas yang dibentuk oleh berbagai hubungan tanda dan kode secara acak tanpa acuan (referensi) yang jelas. Hubungan ini melibatkan tanda real (fakta) yang terbentuk melalui proses reproduksi, serta tanda semu (citra) yang tercipta dari proses reproduksi. Dalam dunia kebudayaan simulasi, realitas faktual dan citraan berjalin dan berbaur atau menumpuk. Dalam proses simulasi (simulacra) ini, kita tidak lagi dapat membedakan secara tegas mana yang asli, yang fakta, yang palsu, dan yang semu.
Jadi, penafsiran S.t Sunardi terhadap teks Verhaar tentang (Filsafat yang berkesudahan) – dapat kita katakan dan atau tanpa sadar telah melalui poses simulacra (simulasi), dimana tafsiran St. Sunardi terhadap Verhaar tidak lagi bisa dilihat sebagai fakta (baca: realitas pertama) melainkan ia citraan (realitas kedua) yang sudah mengandung konstruksi subjektif penafsir. Dan saya sendiri sebagai kementator atas tulisan St. Sunardi – berada pada posisi ketiga proses simulacrum yang tentunya akan semakin mengaburkan realitas riel atas pemikiran Verhaar. Mungkin contoh berikut memudahkan memahami proses simulacrum Baudrillard, misalnya: Alam sebagai realitas/fakta (misalnya, gunung), gunung tersebut dilukis oleh Verhaar, kemudian lukisan Verhaar dilukis ulang oleh St. Sunardi, dan  kemudian lukisan St. Sunardi dilukis ulang Fajar – itulah yang disebut proses simulasi (simulacrum) dimana realitas beralih ke dalam citra (kepalsuan/tiruan/modefikasi) sehingga kehilangan wujud aslinya akibat simulasi si subjek maka terjadilah heperrealitas yang menegasi yang real. Maka tanpa sadar yang kita terima hanya citra (bayangan) sedangkan wujud rielnya tereduksi oleh simulasi dan kehilangan eksistensinya sehingga yang ada adalah kepalsuan atau hiperrealitas.

B.     Pembahasan
1.      Diprofesionalisasi Filsafat
Secara khusus St. Sunardi dalam artikel pendeknya tersebut membahas beberapa isu terkait dengan pemikiran Verhaar dalam bukunya yang memuat beberapa tulisan Filsafat yang Berkesudahan (1999). Dalam buku tersebut Verhaar sebagaimana dalam narasi St. Sunardi, masuk dalam perdebatan atau diskursus tentang apa sebaiknya tugas sosial filsafat dalam masyarakat pluralistik, dan khsususnya perdebatan tentang purnamodernisme. Dalam hal ini Verhaar, demikian diungkapkan St. Sunardi – lebih besikap pragrmatis dalam mendekati filsafat. Yakni filsafat diukur dari fungsinya bagi masyarakat, bukan dari banyak “sofia” yang dikumpulkan. Fungsi ini dilihat sebagai zaman yang disebut sebagai postmodern dengan salah satu coraknya yang mencolok, yaitu pluralistik.
Jadi, filsafat berkesudahan merupakan kritik atas filsafat perennial (philosophia parennis) dari abad pertengahan, yaitu sebuah model filsafat yang meyakini bahwa setiap agama di dunia memiliki suatu kebenaran yang tunggal dan universal dan merupakan dasar bagi semua pengetahuan dan doktrin relegius. Fungsi filsafat berkesudahan tentu berbeda dengan fungsi filsafat sebelumnya yang berorientasi pada kebijaksanaan (sofia), mencari kepastian pengetahuan, atau menyediakan ajaran yang paling sehat bagi Negara. Sebagai gantinya, kini tugas filsafat tidak lebih daripada menjalankan fungsi “penaksir, pendamai, penemu cara yang dapat diterima oleh semua”. Model filsafat ini (filsafat berkesudahan) menggunakan filsafat bahasa sebagai basisnya dan pragmatisme sebagai prinsipnya.
Dapat kita pahami bahwa filsafat model ini ingin menemukan relevansi antara aspek teoritis dan aspek praktis dari sebuah bangunan filsafat – yakni sejauh mana bangunan filsafat tersebut mempengaruhi tindakan seseorang dalam hubungannya  sebagai makhluk sosial.
2.      Simulasi Narasi yang Berujung pada Heperrealitas
Pada kesempatan ini saya sebagai komentator St. Sunardi – akan melakukan upaya untuk menelaah lebih dalam dimana posisi St. Sunardi sebagai komentator atas tulisan Verhaar. Verhaar seorang pemikir postmodernis berusaha memotret paradigma postmodernisme sebagai basis pijakan dalam memahami realitas sosial-budaya yang cendurung bergerak ke arah ambigiutas, pluralitas, dan pragmentasi. Dalam hal ini apakah St. Sunardi sebagai penafsir atas pemikiran Verhaar mampu keluar dari Simulacra (simulasi) wacana yang dibangun oleh Verhaar atau malah tenggelam dalam simulasi tersebut, yakni mendukung tanpa ada upaya kritis atasnya. Jika demikian, tentu hipotesis kita atas St. Sunardi adalah dia pengagum teks Verhaar yang tenggelam dalam arus simulasi lontaran wacana postmodernisme Verhaar sehingga yang dia dapatkan hanyalah hiperrealitas.
Verhaar, sebagaimana diungkapkan St. Sunardi dalam narasinya, mengingatkan kita akan tiga hal yang perlu dipertimbangkan oleh seorang intelektual yang hidup dalam paradigma kultural postmodernisme yang masih agak baru ini, yaitu: (1) melepaskan diri dari elitisme sosial; (2) harus dapat hidup dengan sketisisme atas dasar kekontingenan eksistensi manusia; (3) bersedia berdialog lintas keyakinan atau lintas agama dan dengan mereka yang tidak beriman sama sekali.
a.       De-elitisasi
Elit berarti kelompok kecil, pilihan. Elit sosial merupakan konsekuensi dari profesionalisasi ilmu-ilmu. Dalam paradigma budaya postmodern, tugas “negatif”  dari kaum cendekiawan adalah melepaskan diri dari status elitnya. Verhaar sebagaimana dijelaskan St. Sunardi – dengan keras memperingatkan “para ahli jangan sampai menjual diri kepada instansi yang berkuasa tanpa syarat-syarat yang ketat dan jelas. Peringatan tersebut, ungkap St. Sunardi, secara tidak langsung merupakan kritik atas Negara liberal modern yang menempatkan diri sebagai sumber pengetahuan. Sentralitas pendidikan pada Negara mengasumsikan bahwa Negara adalah sumber pengetahuan dan para pengajar hanya mengajarkan bahan-bahan yang sudah ditentukan oleh Negara menggunakan tenaga para cendekiawan yang dianggap “ahli dalam hal memakai rasio atau ahli dalam bidang ide-ide (St. Sunardi: 363). Hal itu kemudian memunculkan para ilmuan berwatak instrumentalis (rasio instrumental), dimana mereka berlomba-lomba agar ilmunya dijadikan bahan pendidikan yang berlaku secara rasional.
Menurut St. Sunardi – seruan Verhaar kepada para ilmuan untuk tidak menjadi penindas rakyat yang secara ideologis meskipun menindas dengan ide-ide yang bagus. Karena Verhaar beranggapan bahwa nalar postmodernisme, tidak ingin lagi adanya karya intelektual yang ‘instrumental’ demi kuasa politik. Lanjut St. Sunardi, inti gagasan “de-elitisasi” ilmuan ini pada prinsipnya adalah untuk menghindarkan agar ilmuan dan ilmunya tidak dipakai sebagai alat untuk “mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan”. Singkatnya St. Sunardi ingin menyampaikan bahwa kecenderungan elitisasi merupakan kecenderungan untuk membentuk sebuah teori besar (grand theory) dengan asumsi bahwa dalam teori besar itu kepastian bisa mendekati absolitisme. Karena seorang yang menghasilkan teori besar bisa menikmati status elit dan orang-orang lain menjadi pengekor atau pengajar.
Maka sebagai gantinya, kata St. Sunardi, ilmuan  postmodern siap menjelaskan fenomena-fenomena partikular dengan pejelasan yang memadai. Tidak harus mengacu kepada grand theory, namun sebaiknya ia harus membuka diri dengan berbagai macam pendekatan atau multi pendekatan agar sebuah ilmu tidak terdistorsi oleh gagasan yang cenderung untuk menguasai atau deterministik.
b.      Skeptis
Kenisyaan menjadi skeptis adalah kosekuensi dari krisis kepercayaan akan kepastian absolut. Dalam hal ini St. Sunardi menyetir Verhaar: “pecarian kepastian lahir dari keinginan untuk mengatasi skeptisisme. Keinginan tersebut berasal dari rasa cemas. Kaum postmodernisme secara rutin memakai istilah ‘kecemasan Cartesian’. Dalam kerangka postmodern, skeptisisme tidak menjadi soal. Kata Verhaar, kita kan manusia kecil, makhluk yang terbatas. Dan skeptisisme dapat juga membuka jalan untuk yang tak terduga. Sebaliknya, kepastian dapat saja menutup pintu”.
Simulasi (simulacrum) konsep skeptis Verhaar tersebut diamini oleh St. Sunardi dengan mengutip ucapan seorang Zen yang mengatakan “satu-satunya yang paling berharga dalam hidup adalah ketidakpastian hidup”. Menurutnya, obsesi akan kepastian adalah warisan kegelisahan Descartes yang tidak tahan tinggal di hadapan keragu-raguan sampai akhirnya ia menemukan kepastian absolut: Cogito ergo sum – saya berfikir maka saya ada.
Lanjutnya, postmodernisme, sebaliknya, lebih terobsesi pada skeptisisme agar hidupnya lebih terbuka. Hidup menurutnya, layaknya puisi yang perlu diteruskan dan bukannya sebuah kalimat (sententia) sempurna yang tidak  bisa diubah. Yakni hidup bukanlah sesuatu yang harus diteorisasi melainkan dikisahkan. Namun, kisah kehidupan bukanlah kisah dengan struktur mapan, melainkan kisah yang unstructured, belum selesai, dan tak akan pernah selesai. Bukan karena kita tidak mampu menyelesaikannya, melainkan karena tidak ada yang diselesaikan!
Dari dasar itu, St. Sunardi mengukuhkan skeptisisme sebagaimana Verhaar melakukannya, oleh karena itu dia menyerukan agar seorang ilmuan harus skeptis dalam arti bahwa ia harus siap melihat ketidakpastian atau ketidaklengkapan hidup dan oleh karena itu harus dilengkapi seolah-olah bisa lengkap. Lanjut St. Sunardi, sikap skeptisisme merupakan sikap pragmatis dan strategis bagi para ilmuan berhadapan dengan persoalan kebenaran absolut. Sikap ini dapat membuat filsafat lebih berguna dalam waktu dan masyarakat tertentu (filsafat lalu menjadi filsafat berkesudahan) daripada filsafat yang terobsesi pada dengan kebenaran absolut (filsafat perenial atau filsafat yang mengelak).
c.       Dialog untuk Solidaritas
Selain melepaskan elitisisme dan perlunya berisikap skeptis, seorang ilmuan juga perlu melakukan dialog terus menerus, dengan “mereka yang berkeyakinan imani lain dan dengan mereka yang tidak beriman sama sekali”. Ajakan St. Sunardi diatas, mengacu kepada pandangan Verhaar tentang sebuah masyarakat liberal yang plural yaitu “masyarakat politik, atas dasar pemerintahan ‘nasional’, sedemikian rupa sehingga keyakinan religius, filosofis, moral, politik (dan tentunya keempat jenis keyakinan ini saling berhubungan dengan erat) dijamin kebebasannya, atas syarat keyakinan tersebut tidak dipaksakan pada warga lain di dalam masyarakat”.
Karena menurut St. Sunardi, dalam masyarakat plural kita senantiasa dibayang-bayangi oleh berbagai bentuk hubungan antagonistik, yaitu bentuk hubungan yang saling meniadakan. Oleh karena itu menurutnya, masyarakat plural bukan hanya merupakan jawaban romantis terhadap kebebasan, melainkan juga meliputi tanggungjawab untuk menjaga agar masyarakat plural tidak menghancurkan dirinya sendiri.
Menurutnya, Disinilah fungsi filsafat perlu dirumuskan kembali, yakni upaya mengarahkanya untuk menghindarkan terjadinya konflik yang mematikan dan/atau mematikan solidaritas. Dalam hal ini St. Sunardi mengutip sebuah narasi dari Verhaar, “Yang kini diperlukan rasanya adalah filsafat naratif yang menceritakan tentang kisah orang LAIN tentang pengisah, menghasilkan kisah baru tentang pengisah oleh pengisah, yang kini dapat membebaskan diri dari si LAIN sebagai penguasa, dan menemui yang lain sebagai teman, sebagai pelengkap, sebagai perspektif, dan sebagai harapan”.
St. Sunardi sejalan dengan narasi Verhaar dan menegaskan; jalan dialog adalah narasi, dan tujuan dialog adalah membebaskan diri dari kekuasaan orang lain supaya dia menjadi teman dan harapan. Tugas inilah yang sering disebut dilingkungan para postmodernis dengan istilah “politik liyan” (politics of the other).
Maka menurut St. Sunardi, untuk situasi Indonesia di tengah-tengah konflik sosial dan politik sekarang ini, kita masih bisa mengharapkan munculnya sebuah masyarakat Indonesia yang plural sejauh kebangkitan sastra dan kritik sastra (baik dilingkungan akademik maupun di luar) kita tempatkan dalam menumbuhkan solidaritas.
C.    Kesimpulan
St. Sunardi sebagai penafsir teks Verhaar bisa dikatakan tenggelam dalam simulacrum, walaupun kita tahu bahwa dia pada dasarnya hanya mendeskripsikan  pemikiran Verhaar. Namun, sekedar mendeskripsikan tanpa kritik itulah  yang membuat ia jatuh dalam simulasi dan hiperrealitas. Dimana ia menerima seleluruh gagasan Verhaar tanpa ada kritik mendasar atasnya. Simulacrum (simulasi) terjadi dimulai ketika Verhaar berusaha melukiskan narasinya tentang postmodernisme dalam bentuk teks, yang kemudian dilukiskan kembali oleh St. Sunardi secara deskriptif tanpa ada bantahan sama sekali, yang menandakan bahwa St. Sunardi mengiyakan/membenarkan seluruh simulasi (gagasan) Verhaar sebagai sebuah kebenaran atau paling tidak sebagai gagasan yang layak diterima. Namun sesungguhnya tanpa sadar ia tenggelam dalam hiperrealitas gagasan atau idea-idea tiruan yang tidak lagi memiliki persambungan dengan realitas.
Dia seakan lupa bahwa gagasan Verhaar itu adalah citraan dari apa yang ia pahami tentang realitas sosial cultural postmodernitas. Jika ia citraan, maka sudah pasti bukan realitas, melainkan ia pahaman yang diobjektifikasi ke dalam sebuah narasi. Namun begitulah simulacrum ia hadir sebagai sebagai susuatu yang indah dari wujud aslinya sehingga ia sangat potensial menenggelamkan kita ke dalam hiperreliatas yang sajatinya asli/benar tapi pada hakikatnya ia bukanlah yang real tapi proses simulasi membuatnya menjadi lebih benar dari kebenaran. Maka dibutuhkan nalar kritis untuk membongkarnya,  sebagaimana kita harus kritis atas simulasi atau narasi keilmuan dari para ilmuan.
Penulis berpendapat bahwa, apa yang disampaikan St. Sunardi pada paragraf terakhir tulisannya, itu bukanlah kritik melainkan itu sekedar saran, bahwa kontingensi ekonomi juga penting diulas dan dinarasikan. Jadi, kita bisa saja menilai bahwa St. Sunardi berusaha menggiring kita untuk berfikir dengan logika postmodernisme tapi ia sendiri jatuh ke dalam logika berfikir a la modern, kenapa demikian – karena ia sendiri jatuh ke dalam kemapanan berfikir dengan mendukung secara vulgar konsep-konsep atau simulasi pemikiran Verhaar. Bukankah postmodernisme tidak menghendaki kemapanan? Menolak meta teori, serta mengedepankan kritisisme, menghendaki keragaman dan pluralitas, dan mengedepankan multi pendekatan dalam memahami realitas sosial budaya? Maka yang dibutuhkan bukan hanya deskripsi atas teks atau narasi  melainkan juga harus ada upaya untuk mengkritisi teks atau narasi keilmuan para ilmuan agar lahir gagasan atau konsep baru yang juga bisa di tawarkan dalam wacana dan perdebatan keilmuan.
Wallahu A’lam bissawab….!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar