Sabtu, 28 Mei 2016

Filsafat cinta dan spiritualitas

Pokok-pokok pikiran pada kajian bersama teman-teman mahasiswa di dua tempat terpisah; di  asrama mahasiswa Mamuju Utara, Sulawesi Barat  di Yogyakarta dan mahasiswa IKIP PGRI Yogyakata ( Sabtu dan Minggu, 9 dan 10 April 2016)

Catatan Pengantar Kajian Tematik Filsafat Islam
Filsafat Cinta, Spiritualitas, dan Keadilan
Oleh: A.M. Safwan (Pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari –
       RausyanFikr Institute)

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), cinta diartikan suka sekali, sayang benar, terpikat, berharap, rindu. Para ahli psikologi mengartikan cinta sebagai sebuah kisah yang merefleksikan kepribadian, minat, dan perasaan seseorang terhadap suatu hubungan.  Mereka juga mengartikan cinta sebagai suatu emosi yang antara lain berupa penerimaan, persahabatan, kebaikan hati,kepercayaan, rasa dekat dan kemesraan. Kita melihat bahwa arti cinta dalam KBBI tersebut tampaknya mengacu pada pengertian para ahli psikologi. Cinta dalam pengertian ini tampaknya hanya lebih didominasi pada makna yang ditangkap oleh perasaan manusia.

Kita merasakan kedekatan,kemesraan, kasih sayang sebagai sesuatu yang terkait dengan cinta, tetapi apakah ARTI/MAKNA kedekatan, kemesraan, dan kasih sayang dari yang dirasakan tersebut? ARTI/MAKNA ini mengacu pada pengertian dalam  pikiran kita tentang apa-apa yang dirasakan. Jadi, ada perbedaan antara apa yang kita rasakan (cinta) dan arti cinta sebagai pemahaman mengapa perasaan cinta itu hadir dalam diri kita, bagaimana mempertahankan perasaan cinta berhadapan dengan karakter psikologis kita yang lain seperti marah dan benci? Apakah perasaan itu sendiri bisa mempertahankan perasaannya sendiri? Pada kenyataannya perasaan cinta kita sering beradu dengan perasaan benci dalam subjek yang sama yaitu perasaan. Kita semua merasakan bagaimana perasaan itu tidak memiliki sifat dan kualitas yang stabil (perasaan suka berubah-ubah) pada karakter psikologis manusia. Pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah pertanyaan filosofis tentang cinta. Kenapa kita perlu pembahasan filsafat cinta?

Setidaknya sebuah alasan mengapa filsafat cinta perlu diperkenalkan selain pendekatan psikologi. Oleh karena kita tidak menginginkan cinta hanya dibatasi pada perasaan-perasaan manusia, terdapat kenyataan yang kita lihat ada orang yang begitu rupa menampilkan cintanya kepada Tuhan dengan zikir dan air matanya (sebuah perasaan yang patut kita apresiasi) tetapi pada kenyataan dia bisa begitu benci dan bahkan mengkafirkan sebuah ajaran yang di dalamnya banyak muatan-muatan cinta dan kasih sayang. Artinya bahwa memang agama mengajarkan cinta (tawalli) dan benci (tabarri) tetapi persoalannya pada objektivitas penilaian cinta dan benci apakah telah melalui sebuah kriteria dan neraca BENAR- SALAH / BAIK BURUK.  Mengapa kita begitu benci (perasaan) terhadap sebuah ajaran? Mungkin bisa kita pahami karena begitu cintanya kepada Tuhannya (perasaan). Ada 2 perasaan yang bertentangan dalam diri manusia. Tentu ini sah saja, inilah akidah dan komitmen keagamaan yang patut diapresiasi dengan catatan bahwa sebaiknya kecintaan dan kebencian terhadap sesuatu ajaran / pandangan dapat dipertanggungjawabkan dengan sebuah neraca /kriteria pengetahuan bukan dengan retorika semata.  Agar kebencian kita (perasaan) tersebut dapat dinilai benar  salahnya.

Jadi tampaknya bukan persoalan cinta dan benci sebagai sebuah perasaan instingtif (bawaan) manusia tetapi mengapa kita bisa membenci dan mencintai sesuatu yang kita sendiri tidak mengetahui dengan jelas neraca kebenarannya. Tentu, perasaan cinta dan pikiran tentang cinta bukan untuk dipertentangkan, karena keduanya berada dalam satu subjek (manusia) dan itulah realitas manusia.  Persoalannya, bagaimana agar kita dapat menyelesaikan dinamika bahkan mungkin seringkali terjadi pertentangan antara pikiran dan perasaan dan bisa berakhir dengan neraca keadilan sebagai prinsip dasar dari tujuan diutusnya Nabi Muhammad Saw.

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum membuatmu tidak berlaku adil. Berbuat adillah karena ia lebih mendekati ketakwaan. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (QS. Al Maa’idah: 8)

Oleh karena itu cinta (psikologis) hadir sebagai faktor penggerak manusia dalam berhubungan dengan kehidupan sosialnya, tetapi cinta (filsafat ) diperlukan agar pergerakan manusia dapat objektif berada dalam asas keadilan. Seringkali orang punya perasaan cinta kepada pasangannya tetapi mengapa mereka sering tidak adil kepada pasangannya. Mungkin itulah cinta yang berperasaan tetapi kehilangan cinta yang berkeadilan (pikiran). Makna ini saya tangkap juga dalam pemikiran Murtadha Muthahhari yang menyatakan bahwa keadilan adalah spiritualitas. Dengan begitu, ada keterkaitan antara cinta, spiritualitas dan keadilan.

Tentu sangat diperlukan kita menjadi manusia yang memiliki perasaan cinta dan kasih sayang dan akan memanifestasikan /mewujudkan dalam tindakan sosial dengan kehadiran cinta yang berbasis pada rasionalitas (objektif). Keadilan adalah spiritualitas dari cinta.
Jadi jika mengatakan CINTA itu berarti kita mengungkapkan perasaan terdalam kita dan sekaligus menjadi landasan objektif tindakan sosial kita yang berkeadilan (BENAR SALAH, BAIK BURUK). Cinta melindungi eksistensi manusia, cinta mampu mengelola perasaan yang  tidak senantiasa stabil kepada cinta yang stabil yaitu berdasar dan bertujuan pada keadilan.

Seorang pria mencintai seorang perempuan (perasaan) tetapi perasaan cinta tersebut ditolak perempuan tersebut. Dengan perasaan tentu dia kecewa,  dengan pikiran tentu dia harus adil, bahwa cinta kenyataannya memang dapat diterima dan dapat ditolak.  Cinta dengan demikian tidak bisa dipaksakan bagaimanapun dalamnya perasaan kita. Oleh karena dalam hubungan dengan alam, cinta akan berelasi dengan nilai baik – buruk dan benar salah. Tidak salah kita memiliki perasaan cinta terhadap sesuatu, asal perasaan itu tidak dipaksakan karena kita bisa jatuh dalam ketidakadilan. Akhirnya,  berawal dari cinta berakhir dengan benci. Padahal, dalam tindakan sosial Islam, filsafat cinta  membawa kebencian bertemu akhirnya dengan cinta melalui keadilan.

Kita mendukung GERAKAN ISLAM CINTA! Karena di dalamnya ada spiritualitas dan ada keadilan.

Wallahu’alam bi al Shawab

Salam atas Nabiullah al Mustafa Muhammad Saw. dan keluarganya
serta para sahabatnya yang setia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar