ISLAM, DEMOKRASI
DAN CIVIL SOCIETY
Makalah
Disusun untuk memenuhi tugas akhir semester
Mata Kuliah: Islam, Demokrasi dan Civil Society
Dosen Pengampu:
Dr. Abdur Rozaki, M.Si.
Disusun Oleh:
Fajar, S.H.I.
STUDI POLITIK DAN PEMERINTAHAN ISLAM
PROGRAM MEGISTER HUKUM ISLAM
UIN SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2015
A.
Latar Belakang
Fenomena dinasti politik yang berkembang merupakan sesuatu
yang alamiah, hanya saja kekhawatiran monopoli kekuasaan pada satu kelompok
penguasa dan pelanggaran dari segi etika serta rasa keadilan dalam masyarakat,
membuat dinasti politik lebih banyak dilihat secara negatif. Tulisan ini ingin
melihat perkembangan dinasti politik di Indonesia saat ini, khususnya dinasti
politik klan Syahrul Yasin Limpo di Sulawesi Selatan.
Dinasti politik dapat dilihat dalam kategori antara
lain : dinasti politik dalam arti luas, dimana sirkulasi kepemimpinan politik
lebih luas melampaui hubungan ikatan kekerabatan dekat, tapi masih dalam satu
kelompok kepentingan seperti misalnya: hubungan kepartaian (RRC), hubungan
almamater.
Sedangkan dinasti politik dalam arti sempit memperlihatkan
sirkulasi kepentingan politik dalam satu hubungan ikatan kekerabatan dekat.
Model ini menerapkan monarkhi politik kontemporer, dimana peralihan kekuasaan
melalui demokrasi prosedural sebagai contoh : dinasti politik Ratu Atut di
Banten, dinasti politik Yasin Limpo di Sulawesi Selatan dan lain-lain.
Pola lain adalah kekerabatan politik yang berbeda kamar
eksekutif dan legislativf. Walikota Pasuruan, Jawa Timur, misalnya dikontrol oleh
DPRD yang dipimpin anak kandungnya. Contoh lainnya adalah dinasti politik
Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah. Dia adalah kakak kandung Wakil Bupati
Serang Ratu Tatu Chasanah, kakak tiri Walikota Serang Tb Haerul Jaman, kakak
ipar Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, dan anak tiri wakil Bupati
Pandeglang Heryani. Ichsan Yasin Limpo yang kini Bupati Gowa adalah adik
Gubernur Sulawaesi Selatan Syahrul Yasin Limpo. Di Sulawesi Utara, ada
wakil bupati Minahasa Ivan SJ Sarundajang yang putra Gubernur Sulawesi Utara
Sinyo Harry Sarundajang. Walikota Padang Sidempuan Andar Ami Harahap adalah
anak Bupati Padang Lawas Bachrum Harahap. Kendati Zulkifli Nurdin sudah tidak
menjabat Gubernur Jambi, Putranya Zumi Zola. Kini menjadi Bupati Tanjung Jabung
Timur.
Dari bahasan diatas dapat kita lihat bahwa perkembangan
dinasti politik dapat berelasi positif, netral maupun negatif. Berkaitan dengan
politik dinasti adalah bukan saja masalah etis atau tidak etis namun lebih
kepada apakah para politisi dinasti tersebut memiliki kapasitas, kapabilitas,
akseptabilitas untuk melaksanakan tugasnya. Maka dalam kajian makalah ini akan
ditinjau bagaimana klan Yasin Limpo membangun dominasi politiknya, dan juga
seperti apa dan bagaimana mereka mempertahankan dominasi kekuasaan tersebut.
B.
Rumusan
masalah
Dari latar belakang
masalah tersebut di atas, akan dirumuskan beberapan pokok masalah berikut:
1.
Bagaimana historisitas politik dinasti
klan Yasin Limpo?
2.
Bagaimana klan Yasin Limpo membangun
kekuasaan politiknya ?
3.
Bagaimana mereka mempertahankan
kekuasaan politiknya?
C.
Landasan
Teori: Teori Elit
Makalah ini menggunakan
teori elit sebagai pisau analisis. Secara etimologi istilah elite berasal dari
kata latin eligere yang berarti
memilih. Pada abad ke 14 istilah ini berkembang menjadi a choice of persons yang artinya orang terpilih. Kemudian pada abad
ke 15 dipakai untuk menyebutkan best of
the best (yang terbaik dari yang terbaik). Selanjutnya pada abad ke 18
dipakai dalam bahasa Perancis untuk menyebut sekelompok orang yang memegang
posisi terkemuka dalam suatu lapisan masyarakat.
Amitai
Etzioni, definisi elite sebagai kelompok aktor yang
mempunyai kekuasaan. Sedangkan menurut Bottomore,
istilah elite secara umum digunakan untuk menyebut kelompok-kelompok fungsional
dan pemangku jabatan yang memiliki status tinggi dalam suatu masyarakat.[1]
Gaetano
Mosca (1858-1941), dalam setiap masyarakat terdapat dua
kelas penduduk yaitu satu kelas yang menguasai yang disebut elit dan satu yang
dikuasai yaitu masyarakat. Kelas pertama atau elit yang jumlahnya selalu
minoritas, menjalankan semua fungsi politik, memonopoli kekuasaan, dan
menikmati keuntungan yang diberikan oleh kekuasaan itu. Sedangkan kelas kedua,
yang jumlahnya jauh lebih besar, diatur dan dikendalikan oleh kelas elit itu.[2]
Gaetano
Mosca mengembangkan teori elit dan mengklasifikasikan ke
dalam dua status yaitu elit yang berada dalam stuktur kekuasaan dan elit yang
diluar stuktural. Elit berkuasa menurut Mosca yaitu elit yang mampu dan
memiliki kecakapan untuk memimpin serta menjalankan kontrol sosial. Dalam
proses komunikasi, elit berkuasa merupakan komunikator utama yang mengelola dan
mengendalikan sumber-sumber komunikasi sekaligus mengatur lalu lintas
transformasi pesan-pesan komunikasi yang mengalir. Elit berkuasa menjalin
komunikasi dengan elit masyarakat untuk mendapatkan legitimasi dan memperkuat
kedudukan sekaligus mempertahankan status quo. Sedangkan elit yang berada
diluar struktural yaitu elit masyarakat merupakan elit yang dapat mempengaruhi
masyarakat lingkungan di dalam mendukung atau menolak segala kebijaksanaan elit
berkuasa.[3]
D.
Pembahasan:
Dominasi Kuasa Klan Yasin Limpo
1.
Historisitas Politik Politik Klan Yasin Limpo
Pengaruh Klan Yasin Limpo dalam
politik Sulawesi Selatan dibangun sejak M. Yasin Daeng Limpo memulai kiprah
politiknya setelah ia keluar dari dinas militernya sekitar 1960-an. Dalam
konsepsi Bourdieu konteks ini menjadi penting yang merupakan
disposisi/distingsi politik awal klan Yasin Limpo, yang dalam konsepsi Bourdieu
disebut sebagai “Habitus”. Mengambil peran
penting dalam pembentukan Organisasi untuk
Pekerja Independen Indonesia (SOKSI), sebuah kelompok yang
didominasi militer dan dirancang untuk melawan
kekuatan komunis yang semakin meningkat di tahun 1960-an. SOKSI
belakangan adalah cikal bakal berdirinya Golkar.
Selanjutnya Tahun 1960 hingga 1990-an
menjabat berbagai jabatan penting di Sulawesi Selatan. Pernah menjabat sebagai
kepala distrik Gowa dan dua kabupaten tetangganya. Menjadi anggota legislative
yang aktif di tingkat provinsi dan Gubernur sementara di Sulwesi Selatan. Modalitas politiknya, ditopang oleh beberapa
jabatan pentingnya sebagai pemimpin berbagai Perusahaan milik Negara di
Sulawesi Selatan. Praktis peran dan pengaruhnya menjadi sangat
strategis, M. yasin Dg. Limpo menjadi referensi rezim Orde Baru bagi sirkulasi
elit di Sulawesi Selatan, sehingga lingkaran kepentingan elitpun merapat
kepadanya .
Dengan berbagai posisi itu,
ia berani untuk berkonfrontasi dengan para bangsawan terutama di daerah selatan
yang mayoritas di kuasai oleh bangsawan-bangsawan Makassar. Sebuah distingsi
politik penting ke dua yang kemudian membelah identitas politik etnis Makassar
menjadi dua kutub kekuatan yang hingga kini mewarnai politik Sulawesi Selatan.
Konfrontasinya dengan para bangsawan membuatnya menjelma menjadi simbol politik
etnis Makassar yang membangun pemapanan jaringan politik keluarga Yasin Limpo
hingga saat ini.Pemapanan jaringan politik keluarga Yasin Limpo awalnya hanya
bermain pada ranah birokrasi dan Golkar. Namun pada perkembangan-perkembanga
selanjutnya jejaring politik itu kemudian berdiaspora ke berbagai jejaring
kelembagaan baik di organisasi-organisasi sayap partai maupun di berbagai
partai lainnya.
Pada perkembangan awal, habitus
politik Syahrul yasin Limpo diletakkan oleh Ayahnya dengan menyekolahkannya ke
STPDN. Sebuah habitus politik birokrasi yang menjadi desain dan model politik
selama masa orde baru dimana pengaruh politik ditanamkan melalui pemapanan
pengaruh di dalam birokrasi. Karenanya SYL di sekolah ke STPDN dan IYL di
menjadi seorang birokrat. Nantinya
Tingkat pendidikan dan kiprahnya di dunia pemerintahan dianggap sukses,
pengaruhnya di beberapa organisasi sayap Golkar seperti Kosgoro dan AMPI juga
kuat, serta simbolitas politik keluarganya yang merepresentasikan basis etnis
Makassar kemudian membawa SYL terpilih menjadi pendamping H.M. Amin Syam dalam
Pemilihan Gubernur Sulawesi Selatan tahun 2003.
Interaksi dan didikan politik
keluarga membuat Syahrul yasin Limpo menjadi seorang sosok yang matang. Aktif
menjadi pengurus Golkar, dan menjadi ketua di beberapa organisasi sayap Golkar,
memudahkannya untuk berinteraksi dan membangun dukungan politik lintas partai
maupun dengan berbagai tokoh politik lintas etnis lainnya, ditambah habitus
politiknya sebagai seorang tokoh yang mewakili etnis Makassar, membuatnya mampu
meraih dukungan yang solid dari basis politiknya di Gowa, Makassar dan Takalar,
serta wilayah selatan lainnya yang mayoritas etnis Makassar.
Pada Pilkada 2007 menjadi bukti
kekuatan pengaruh politik klan Yasin Limpo. M Ikhsan Yasin Limpo terpilih
sebagai Bupati Gowa yang sekaligus mempertegas pengaruh dan kekuatan habitus
dan basis politiknya di wilayah selatan yang merupakan basis etnis makassar. Pada
Pilkada 2009 Syarul Yasin Limpo terpilih menjadi Gubernur Sulawesi Selatan
mengalahkan incumbent H.M. Amin Syam yang sebelumnya merupakan atasannya. Momentum politik berikutnya bagi
keluarga ini ini adalah Pemilu. Deliberasi politik pada Pemilu 2009 melalui
suara terbanyak, menjadi pembuktian terhadap kuatnya modalitas simbolik Klan
Yasin Limpo. SYL bersaudara mendapatkan penawaran-penawaran strategis dari
berbagai partai politik. Putra-Putri mereka yang masih belum mahir berpolitik
pun laku keras di Demokrat dan PAN sehingga ranah politik deliberatif dalam
pemilu 2009 tidak saja menjadi petanda diaspora politik keluarga Yasin Limpo,
namun juga merupakan pergeseran habitus keluarga dari habitus militer,
Birokrasi ke lembaga-lembaga politik.
2.
Dominasi
Kekuasan Politik Dinasti Klan Yasin Limpo
Persaingan dalam Pemilihan Kepala Daerah Kabupaten Gowa,
Sulawesi Selatan, berpotensi kembali diikuti calon dari dinasti politik
terbesar di Sulsel, Yasin Limpo.Terdapat dua nama dari klan Yasin Limpo yang
secara resmi telah menyatakan keinginannnya maju dalam Pilkada Gowa pada
Desember 2015 mendatang, yakni Adnan Purichta Ichsan Yasin Limpo dan Tenri Olle
Yasin Limpo.Bahkan, Adnan Purichta yang merupakan ponakan Tenri Olle, melalui
tim pemenangannya telah menyambangi Komisi Pemilihan Umum (KPU) Gowa untuk menyampaikan
pernyataan mendaftar berpaket dengan birokrat Gowa.[4]
Adapun Adnan yang saat ini tercatat sebagai Anggota DPRD
Sulsel merupakan putra dari Bupati Gowa dua periode Ichsan Yasin Limpo
(2005-2015).Sedangkan Tenri Olle yang saat ini merupakan anggota DPRD Sulsel
adalah kakak kandung dari Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Bupati Gowa
Ichsan Yasin Limpo.Adnan maupun Tenri Olle bahkan telah mendaftar secara resmi
untuk ikut dalam penjaringan calon bupati di DPD Partai Golkar Gowa 14 Juni
2015.
Kendati demikian, keikutsertaan Adnan dan Tenri dalam
perhelatan Pilkada Gowa 2015 masih menunggu hasil sidang uji materil di
Mahkamah Konstitusi terkait Perppu Pilkada Langsung yang mengatur larangan
politik dinasti kecuali telah melewati jeda satu kali masa jabatan.
Dominasi klan Yasin Limpo secara massif dimulai pada 1994,
di mana Syahrul Yasin Limpo menjabat sebagai Bupati Gowa hingga 2003. Pada
2003, Syahrul kemudian terpilih menjadi Wagub Sulsel mendampingi Amin Syam
hingga 2008. Selanjutnya, Syahrul maju sebagai calon gubernur dan menang dalam
Pilgub Sulsel pada 2009 dan kemudian kembali terpilih untuk periode 2013-2018.
Berikut beberapa jabatan yang diduduki dan jabatan oleh klan Yasin Limpo:
Jabatan Politik Dinasti Yasin Limpo
Nama
|
Hubungan
|
Jabatan
|
Syahrul
YL
|
Gubernur
Sulawesi Selatan
|
|
Nurhayati
YL
|
Ibu
|
DPR
RI
|
Tenri Olle YL
|
Kakak
|
DPRD sulsel
|
Ichsan YL
|
Adik
|
Bupati Gowa
|
Haris YL
|
Adik
|
DPRD Kota Makassar
|
Dewi YL
|
Adik
|
DPR RI (hanura 2014)
|
Indira Chunda SYL
|
Anak
|
DPR RI (PAN 2014)
|
Adnan
Purichta IYL
|
Ponakan
|
DPRD Sulsel (Demokrat
|
Sumber: Kompas[5]
Syahrul, anak kedua, menjabat. Anak pertama, Tenri Olle,
menjadi anggota DPRD Provinsi Sulsel. Ichsan menjadi Bupati Gowa, jabatan yang
juga pernah diemban ayahnya dan Syahrul. Haris menjadi anggota DPRD Kota
Makassar. Irman menjadi Kepala Dinas Industri dan Perdagangan Provinsi Sulsel.
Sementara, meski mayoritas keluarganya di Partai Golkar, pada Pemilu 2009 Dewie
menjadi calon anggota DPR dari Partai Hati Nurani Rakyat.Bahkan, kini generasi
berikutnya mulai mentas di panggung politik. Anak Syahrul, Indira Thita Chunda,
menjadi anggota DPR dari Partai Amanat Nasional (PAN). Anak Ichsan, Adnan
Purichta, menjadi anggota DPRD Sulawesi Selatan dari Partai Demokrat.Menanggapi
persebaran keluarganya di pentas politik itu, Syahrul membantah bahwa hal itu
adalah arena fasilitas tertentu dari dia atau partai politik. Mereka memiliki
talenta untuk berpihak kepada rakyat. Mereka menjadi caleg bukan karena
anak-cucu Yasin Limpo (Kompas, 21 Oktober 2009).[6]
Tongkat estafet dinasti Yasin Limpo di Kabupaten Gowa
kemudian dilanjutkan Ichsan Yasin Limpo yang menang dalam Pilkada langsung Gowa
untuk periode 2005-2010. Ichsan kembali terpilih untuk periode kedua setelah
menang dalam pertarungan Pilkada Gowa untuk periode kepemimpinan 2010-2015.
Kabupaten Gowa merupakan daerah penyangga Kota Makassar dan
masuk dalam perencanaan kawasan Mamminasata (Makassar, Maros, Sungguminasa dan
Takalar). Sekedar diketahui, Ibu Kota Kabupaten Gowa adalah Sungguminasa.Kawasan
Mamminasata merupakan percontohan pengembangan tata ruang terpadu di Indonesia
yang dibentuk berdasarakan Peraturan Presiden No 55 Tahun 2011.Kawasan
Mamminasata meliputi empat kabupaten/kota di Sulsel yakni Makassar, Gowa
(Sungguminasa), Maros dan Takalar yang dipersiapkan pemerintah pusat sebagai
sentra pertumbuhan ekonomi Indonesia Timur.
Anhar Gonggong berani
menyatakan bahwa keluarga besar Yasin Limpo di Sulsel adalah salah satu
keluarga yang menjalankan politik dinasti. Penciptaan kultur dan warisan
dinasti telah dimulai sejak lama dari sang ayah, Yasin Limpo. “Di era orde
baru, Ny Yasin Limpo telah menjadi anggota DPR berulang kali. Dan berikutnya
adalah anaknya ada yang menjadi gubernur, bupati, anggota DPRD, kepala dinas,
dan lainnya. Yang bisa menghentikan ini hanya kesadaran masyarakat untuk tidak
memilih politik dinasti”. Seperti
diketahui, selain Syahrul Yasin Limpo yang kini menjadi gubernur Sulsel, sang
adik bungsu Irman Yasin Limpo yang sebelumnya menjabat sebagai Kepala Dinas
Perindustrian dan Perdagangan Sulsel kini maju dalam Pilkada Kota Makassar
sebagai Calon Walikota.[7]
Berikutnya ada Ichsan
Yasin Limpo yang menjadi Bupati Gowa, Tenri Olle dan Haris di DPRD Sulsel dan
Makassar. Sebelumnya, Adnan Purichta Ichsan juga duduk di DPRD Sulsel.
Menariknya, Dewie Yasin Limpo sempat ingin maju di Pilwako Makassar. Namun,
akhirnya mundur pelan-pelan.[8]
Pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN)
Alauddin Makassar Firdaus Muhammad mengatakan, klan keluarga Yasin Limpo selama
ini memang dikenal banyak berkiprah menjadi politisi sehingga sangat wajar
kalau berpencar menjadi caleg di pemilu mendatang. Syahrul sebaiknya
memberikan keteladanan politik untuk tidak menghalalkan segala cara meloloskan
para keluarganya atau memonopoli kancah politik. Kalau hal itu mampu
dijalankan, Syahrul dapat membendung stigma politik mengenai dinasti klan Yasin
Limpo. Syahrul tidak boleh larut dukung-mendukung dengan banyaknya keluarga dia
yang maju di pemilu. Itu harus dihindari untuk menjaga wibawa pemerintahannya
yang tidak cenderung dinasti politik. Dalam menguasasi jaringan politik di
Sulawesi Selatan, Dinasti Yasin Limpo mengembangkan jaringan politik keluarga
dalam penempatan jabatan strategis pada struktur politik dan birokrasi baik itu
baik pada tingkat daerah maupun nasional.[9]
Kendati demikian, posisi Syahrul yang netral bukan berarti
keluarganya dibatasi hak politiknya, melainkan menarik garis demokrasi sebagai
gubernur dan keluarga. Mengenai peluang keluarga Syahrul, sangat terbuka
sepanjang bisa saling berbagi dukungan atau tidak saling jegal, terutama mereka
yang bertarung di dapil yang sama.
Meskipun sering menyangkal terkait dinasti politik yang
dibangunnya namun apa yang terjadi di lapangan mejadi bukti bahwa keluarga
Yasin Limpo sedang berusaha menjadi pemegang kekuasaan elit politik yang
terbesar di Sulawesi Selatan. Keturutsertaan keluarganya dalam memangku
jabatan-jabatan penting dalam pemerintahan di Sulawesi Selatan meskipun
memiliki partai pendukung yang berbeda-beda tetap saja mencerminkan adanya
dinasti politik.
Dinasti meskipun ada anggapan bahwa dinasti politik itu
tidak masalah jika memang anggota-anggota yang naik dan menduduki kursi jabatan
adalah orang yang memiliki kompetensi dan mampu memberikan perbaikan dalam
pemerintahan namun tetap saja dinasti politik yang pada dasarnya dibangun atas
hubungan keluarga akan menimbulkan ketidakseimbangan ketika faktor keluarga
yang sifatnya pribadi bercampur dengan faktor masyarakat yang sifatnya umum dan
menyeluruh.Tidak dapat dipungkiri bahwa hal tersebut akan selalu terjadi dimana
kepentingan keluarga atau golongan akan menjadi suatu prioritas yang utama
diatas kepentingan umum dalam sebuah dinasti politik.
3.
Upaya
Klan Yasin Limpo Mempertahankan Dinasti Politik
Partai Golkar Sulawesi Selatan (Sulsel) terus berupaya keras
untuk membangun politik kekerabatan atau dinasti Politik terjadi di kabupaten
Gowa. Hal ini tergambarkan dari hasil rekomendasi Calon bupati Gowa yang di
serahkan ke Pengurus DPP untuk maju bertarung di pemilihan kepala daerah
(pilkada) Gowa dengan menyerahkan hanya tiga nama, yakni Tenri Olle Yasin Limpo
, Adnan Purictha Icsan Yasin Limpo serta Bahar Ngitung.
Hal tersebut disampaikan oleh penggiat politik dan ekonomi
Sulsel, Abdul Haris kepada wartawan di Makassar. Menurutnya, sebagai partai
besar, Golkar harus bisa menyodorkan banyak nama ke DPP untuk direkomendasikan
menjadi bakal calon bupati untuk bertarung di Pilkasa Kabupaten Gowa.[10]
Lanjut Haris, Dalam sistem politik dinasti ini, setiap kelas
menunjukkan tendensi untuk membangun suatu tradisi secara turun-menurun, jika
sebuah kepemimpinan terpilih, mereka membuat kekuasaannya sedemikian mapan agar
sulit untuk digeser atau digantikan, bahkan menggerus prinsip demokrasi di
lapangan permainan politiknya.
Menurutnya, terlihat jelas dari tiga
nama yang di rekomendasikan oleh partai Golkar menunjukkan bahwa kekuasaan
Ihsan Yasin Limpo terus berupaya di wariskan terhadap kelurganya, dimana kita
ketahui dari dua nama tersebut adalah anak dan Kakak kandungnya.
Masyarakat sebagai pemilih mengetahui bahwa Adnan adalah
anak Ihsan Yasin Limpo, Tenri Olle adalah kakak kandung. Sedang Bahar Ngitung
adalah bagian dari mereka. Ketika Bahar Ngitung terpilih menjadi bupati,
keluarga Yasin Limpo tetap memangang remove kontrol pemerintahan di Kabupaten
Gowa.
Bahaya dari politik dinasti adalah hasratnya. Sifat
alamiahnya adalah kekuasaan politik yang ingin dijalankan secara turun-temurun
di atas garis trah dan kekerabatan, bukan didasarkan pada kualitas
kepemimpinan, tujuan-tujuan bersama, keputusan dan kerja-kerja asosiatif.
Hubungan keluarga dalam tubuh partai politik juga akan terus
terbawa ke dalam pemerintahan. Kecenderungan oligarkis dalam partai merupakan
hukum besi yang tak terhindarkan, bahkan ketika partai tersebut menjadi partai
yang berkuasa maka model oligarkis akan juga diberlakukan dalam pemerintahan.
Lanjut Haris, pengaruh kekerabatan dalam partai politik
bukan hanya bisa dilihat posisinya, tapi juga kedudukannya. “Beberapa loyalis
Syahrul Yasin Limpo memiliki kualifikasi dan kualitas yang cukup mumpuni
menjadi calon bupati, sebut saja Yusuf Sommeng dan beberapa figur lain, tapi
Golkar Sulsel tak memberikan kesempatan.[11]
Hal senada di sampaikan oleh, pengamat politik Universitas
Bosowa 45 Makassar, Arief Wicaksono mengatakan, rekomendasi Partai Golkar
dengan hanya menyerahkan tiga nama. “Adnan IYL, Tenri Olle, dan Bahar Ngitung
merupakan bagian dari keluarga Syahrul Yasin Limpo yang juga ketua Golkar. Hubungan
kekerabatan para petinggi di tubuh partai, sangat menentukan kedudukan,
pembagian kekuasaan, dan kelak mendominasi seluruh kebijakan.
Secara jelas dapat kita simpulkan bahwa pada dasarnya Klan
Yasin Limpo membangun habitus politiknya dari aras bawah sampai ke tingkat atas.
Sebagaimana disebutkan di atas, interaksi dan didikan politik
keluarga membuat Syahrul yasin Limpo menjadi seorang sosok yang matang. Aktif
menjadi pengurus Golkar, dan menjadi ketua di beberapa organisasi sayap Golkar,
memudahkannya untuk berinteraksi dan membangun dukungan politik lintas partai
maupun dengan berbagai tokoh politik lintas etnis lainnya, ditambah habitus
politiknya sebagai seorang tokoh yang mewakili etnis Makassar, membuatnya mampu
meraih dukungan yang solid dari basis politiknya di Gowa, Makassar dan Takalar,
serta wilayah selatan lainnya yang mayoritas etnis Makassar.
Klan Yasin Limpo berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan
membangun jaringan kuasa pada semua aspek-aspek yang strategis – birokrasi,
pemerintahan, termasuk legislative semua wilayah itu diduduki oleh jaringan
Klan Yasin Limpo. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Klan Yasin Limpo,
utamanya Syahrul Yasin Limpo merupakan sosok pemimpin populis, yang sangat
dikagumi masyarakat Sul-sel. Kebijakan-kebijakannya cukup dinikmati oleh
masyarakat sul-sel, seperti contoh pendidikan Gratis (Gratis masuk perguruan
tinggi negeri dan bebas SPP selama dua semester). Juga indeks pembangunan
manusia yang cukup signifikan peningkatannya. Pada satu sisi politik dinasti
memiliki efek positif bagi masyarakat, jika politik dijalankan secara populis,
namun disaat yang bersamaan juga melahirkan efek negative, negative karena
politisi dinasti ini cenderung bekerja untuk kepentingan keluarga, dimana
kepentingan publik seringkali teriduksi oleh kepentingan klan. Sehingga
kebijakan-kebijakan yang dihasilkan selalu berorientasi pada penguasaan sumber daya
dari dan untuk kepentingan klan (dinasti) – utamanya sember daya ekonomi yang
merupakan lahan basah, yang selanjutnya digunakan sebagai instrumen hegemoni
politik.
Maka demokrasi sebagai instrumen sirkulasi kekuasaan
seringkali mengalami hambatan, dihambat oleh elit politik local sehingga
sirkulasi kekuasaan hanya berputar dalam wilayah elit tersebut. Jadinya
demokrasi yang berorientasi pada inklusifitas, dibelokkan oleh elit politik
politik lokal menjadi demokrasi yang elitis.
DAFTAR PUSTAKA
Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu, (Balai Pustaka :
2001.
Gaetano Mosca, The Ruling Class, New York: McGraw-Hill,
1939.
A.P. Sumarno, Dimensi-dimensi komunikasi politik, Bandung:
PT Acitra Aditya Bakti, 1989.
Lila Karina Dewantari, “Dinasti
Politik” (artikel).
http://makassar.bisnis.com/read/20150615/13/189557/dinasti-yasin-limpo-masih-ambisi-kuasai-gowa, diakses: 10
Oktober 2015.
http://bola.kompas.com/read/2012/08/10/02524474/.Mengokohkan.Dinasti.Politik, diakses: 11
oktober 2015.
http://daerah.sindonews.com/read/765463/28/politik-dinasti-di-pilwako-makassar-merusak-demokrasi-1374770095, diakses:
tanggal 11 okteber 2015.
[1] Agus Setiyanto, Elite Pribumi Bengkulu, (Balai Pustaka :
2001), hal. 77.
[2] Gaetano Mosca, The Ruling Class (New York: McGraw-Hill,
1939), hal.50.
[3]A.P. Sumarno, Dimensi-dimensi komunikasi politik(Bandung:
PT Acitra Aditya Bakti, 1989), hal.149.
[5]
http://bola.kompas.com/read/2012/08/10/02524474/.Mengokohkan.Dinasti.Politik
[6]Ibid.
[7]http://daerah.sindonews.com/read/765463/28/politik-dinasti-di-pilwako-makassar-merusak-demokrasi-1374770095
[8]Ibid.
[9] Lila Karina Dewantari, “Dinasti
Politik” (artikel).
[11]Ibid.
Why casino is so popular in New Jersey and New Jersey
BalasHapusThis is the story 김해 출장샵 of the day – not the casino 문경 출장안마 itself. 당진 출장샵 Here's a full look at how popular 충청남도 출장마사지 it 대구광역 출장마사지 is in New Jersey, and the state's