Selasa, 24 Mei 2016

RELEVANSI TEORITIS KONSEP DISPOSESI DALAM DOKTRIN RASIONAL (Menemukan Kemungkinan non-Materi dibalik Materi)



RELEVANSI TEORITIS KONSEP DISPOSESI
DALAM DOKTRIN RASIONAL
(Menemukan Kemungkinan non-Materi dibalik Materi)
Oleh: Fajar
Kaum empiris menjadikan pengalaman sebagai basis pijakan dalam menetukan kriteria pengetahuan manusia. Segala ide yang muncul tidak lain kecuali bersumber dari pengalaman-pengalaman indrawi atau persepsi idrawi. Oleh karena itu, dalam proposisinya, pengalamanlah sebagai pijakan dasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan objektif, dimana pengetahuan objektif tersebut dibuktikan melalui serangkaian eksperimen. Sumber segala pengetahuan adalah pengalaman, tanpa pengalaman atau persepsi indrawi maka menusia akan kehilangan pengetahuan atau tidak akan mencapai pengetahuan objektif. pengalaman menjadi basis keniscayaan pengetahuan.
Dalam pengalamanku, mengendarai sepeda motor dari UIN suka ke Rausyan Fikr biasanya sekitar 20 menit, namun dalam pengalaman yang lain aku juga biasa menempunya dalam kurun waktu 30 menit, dari pengalaman tersebut kita pun bisa menangkap bahwa tidak ada keniscayaan pada pengalaman. Dengan contoh di atas saja sebenarnya kita sudah bisa menangkap bahwa pengalaman bukanlah ukuran keniscayaan pengetahuan. Melainkan ia hanya bersifat partikular yang senantiasa harus bersandar pada pembuktian, jadi tanpa pembuktian atau pengalaman tidak boleh ada kesimpulan. Dalam artian kaum empiris hanya berbicara pada hal-hal yang telah terbuktikan atau dialami. Jika belum dialami maka ia bukanlah wilayah penyelidikan empiris.
Sampai disini kita pun sudah bisa menangkap bahwa doktrin empiris menolak pengetahuan niscaya (pengetahuan universal) sebagaimana dalam doktrin rasional. Bagi mereka penyelidikan terhadap metafisika adalah sia-sia belaka, doktrin empiris bertolak belakang dengan doktrin rasional. Doktrin empiris menyatakan pikiran bergerak dari khusus ke umum, yaitu dari batas-batas sempit eksperimen ke hukum dan prinsip universal, jelasnya pikiran selalu maju dari kebenaran partikular empiris ke kebenaran mutlak. Kaum empiris menolak penalaran silogistik yang berangkat dari hukum umum ke hukum particular khusus sebagaimana dalam doktrin rasional.
Lantas bagaimana doktrin rasional menjelaskan pengetahuan niscaya tersebut? Apakah disana ada sintesis atau malah dualitas? Jika ditinjau dengan konsepsi (teori) rasional Descartes, tentu disana kita tak akan menemukan sintesis kecuali dualitas, yakni dualitas antara alam dan jiwa, lebih jelasnya dualias antara pengetahuan particular dan pengetahuan universal. Implikasi konsepsi rasional pun sangat mudah ditangkap, yakni pemisahan antara yang profane dan sakral (pemisahan antara alam dan tuhan), maka bersama Descartes kita pun akan jatuh menjadi seorang sekuler;
Dalam konsepsi teoritis Kant, kita menemukan sintesis antara alam dan jiwa atau antara persepsi indrawi dan pengetahuan rasional mandiri. Namun bersama Kant kita pun lagi-lagi jatuh ke dalam pelukan empiris karena ketidakmampuan menjelaskan keterkaitan antara pengetahuan niscaya (universal) dengan hal-hal particular di alam; Kant tidak mampu menjelaskan keterkaitan antara pengetahuan nicaya tersebut ketika ia dibawah ke realitas ilmiah particular.
Jika ditinjau dengan M. Baqir Shadr, kita kemudian menemukan bahwa doktrin rasional tidak akan pernah relevan dengan konsepsi rasional itu sendiri, relevansi doktrin rasional adalah konsep disposesi. Jika konsep rasional terjadi dualitas antara alam dan ide, dalam konsepsi disposesi kita akan menemukan sintesis, ada kesinambungan atau relevansi teoritis antara konsep primer (pengalaman indrawi) dan konsep sekunder (pengetahuan niscaya/universal).
Konsep disposesi sama seperti konsep empiris maupun konsep rasional yang sama-sama menerina alam (pengalaman indrawi) sebagai pijakan primer untuk memperoleh pengetahuan. Teori disposesi membagi konsepnya ke dalam dua bagian: pertama, konsep primer yang diperoleh dari pengalaman indrawi; kedua, konsep sekunder yang diturunkan dari pengetahuan niscaya sebagai sebab dari persepsi idrawi. Dalam disposesi inilah kita akan menemukan kesinambungan antara materi dan nonmateri (jiwa dan alam), disana ada kesinambungan antara alam sebagai pijakan primer dalam mengkonsepsi pengetahuan dan rasio mandiri (R2) sebagai pengetahuan niscaya dan tentunya mampu melepaskan diri dari alam.
Namun persoalan lain melanda, jika kesinambungan sudah diterima, serta pengetahuan itu sudah di niscaya di ide sebagaimana dalam doktrin rasional? Lalu bagaimana pengetahuan tersebut di bawa ke realitas untuk dibuktikan secara teortis bahwa pengetahuan tersebut bukan hanya sebagai doktrin/dogma yang niscaya melainkan ia adalah sebuah pengetahunan objektif yang mampu dan tentunya harus bisa ditasdik di alam; jika ia dapat ditasdik di alam maka ia pun akan menjadi pengetahuan objektif yang memiliki kriteria teoritis atau pijakan ilmiah yang objektif pula.
Pertanyaannya mampukah pengetahuan intuitif yang non materi tersebut di tasdik di alam yang notebene ia sebagai materi? Tentu kita akan mencari kemungkinan relevansinya di alam, yakni berupaya menemukan nonmateri dibalik materi; berupaya melampuai materi melalui serangkaian pembuktian teoritis yang melewati batas-batas ilmiah, yakni menemukan dirinya melalui dirinya; atau lebih jelasnya menemukan kemungkinan menifestasi tuhan di alam materi tersebut.
Kesimpulan; Jika kita menggunakan basis empiris tentu tidak akan relevan, pemikiran filosofis dalam doktrin empiris tidak mampu mengafirmasi materi, karena materi tidak bisa diangkap dengan pengalaman murni. Jadi makna materi dalam pahaman empririk hanya sebatas materi dalam arti fenomena atau aksiden, sedangkan substansi materi itu sendiri tidak mampu terpahami hanya dengan pengalaman indrawi. Jika demikian, satu-satunya kemungkinan untuk menemukan relevansi teoritis pengetahuan niscaya tersebut di alam adalah melalui doktrin rasional dengan pendekatan disposesi, karena disposesi tidak hanya berhenti pada pengetahuan niscaya yang besifat dokrtinal melainkan ia berupaya untuk menemukan kemungkinan relevansi teoritisnya di alam sehingga ia mampu menjadi pengetahuan objektif yang bersandar pada realitas ilmiah yang terbuktikan.
Mungkin kah……………….??? Wallahu a’lam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar