Rabu, 25 Mei 2016

SURAT CINTA UNTUK PLATON DI ALAM SANA


SURAT CINTA UNTUK PLATON DI ALAM SANA
OLEH; FAJAR HAJER
Platon, engkau mengatakan jiwa telah ada jauh sebelumnya – sebelum datangnya tubuh;
Bahkan engkau mengatakan jiwa dan tubuh terpisah oleh lembah dualitas;
Kau sungguh liar Platon, Konsepsimu telah melanglang buana sampai ke daratan Eropa;
Platon, engkau harus tahu Pandangan dualitasmu sampai pada Descartes di Prancis dan ia pun mengikuti asumsi dualitasmu atas tubuh dan jiwa namun ia sedikit berbeda darimu;
Platon, Jika tubuh dan jiwa itu terpisah, maka ijinkan aku bertanya, kenapa jiwa dan tubuh harus terpisah atau kenapa alam dan jiwa berada dalam dualitas? Tapi engkau tak menjawabnya;
Aku merasa, itu tidaklah pantas tuk dikatakan karena itu hanyalah dogma saja dan sungguh itu sangat tidak epistemik;
Maaf Platon, aku tak bisa menerima dualitasmu, karena itu sangat membingungkan; dan aku pun tidak bisa menerima dualitas Descartes;
Aku tidak bisa menerima kalian berdua karena sementara ini aku lebih memilih ke Jerman bersilahturrahmi ke dalam konsepsi rasional Immanuel Kant dengan impetaratif kategorinya;
Pada Kant, aku melihat persambungan, disana ada harapan akan sintesis antara alam dan jiwa serta konsepsi indrawi dan rasio, ini lebih rasional karena ia sangat epistemik;   
Platon, aku harus berkata, Aku menemukan secercah kecacatatan dalam struktur konsepsimu, ku-ulangi sekali lagi engkau mengatakan jiwa telah ada jauh sebelum datangnya tubuh;
Sehingga jiwa senantiasa bersentuhan dengan arketipe dimana keabadian dan pengetahuan-pengetahuan universal dan permanen itu berada;
Namun, Engkau juga mengatakan, ketika jiwa turun atau manyatu dengan tubuh, si arketipe pun lenyap dan menjauh dari materi (tubuh) ke alam yang lebih tinggi sehingga jiwa mengalami “lupa” akan pengetahuan-pengetahuan universalnya;
Darimu muncullah teori “pengingatan kembali” – dimana dalam konsepsimu pengingatan kembali akan terjadi melalui konsepsi indrawi;
Indra menangkap  dan mengkonsepsi partikular-partikular di luar dirinya, ia pun sampai di “Rasio 1” sebagai akal praktis dalam pandanganmu;
Dari akal praktis terjadi persentuhan dengan arketipe yang berada diluar rasio dalam pandanganmu, tadinya indra menangkap itu dalam partikular Fajar, Syamil, dan Taufik – arketipe pun meresponnya dengan ke-universalitas pengetahuannya dan berkata itu adalah “manusia”.
Platon, sejujurnya engkau telah membuatku bimbang, hatiku bertanya, jangan-jangan konsepsi filosofismu juga epistemik?
Karena, selain engkau berbicara tentang keabadian pengetahuan di alam idea (arketipe), engkau pun juga mengawali konsepsimu dari persepsi indrawi sebagai proses “pengingatan kembali” sehingga arketipe kembali mengaktual;
Kebimbangan itu semakin memuncak ketika guruku mengatakan struktur konsepsimu tidak epistemik, hatiku berteriak dan mencela kenapa tidak epistemik?
Guruku menjawab, ya tidak epistemik;
Konsepsimu tidak epistemik karena engkau hanya melihat alam sebagai bayang-bayang tak abadi, ibarat cermin yang memantulkan bayangan sedangkan bayangan itu bukanlah realitas melainkan kepalsuan yang menipu, keabadian yang sesungguhnya ada di alam idea yang engkau sebut sebagai arketipe;
Platon, sampai disini, aku menangkap dua proposisi filosofis darimu: pertama, jiwa itu ada sebelum keberadaan tubuh dalam suatu dunia yang lebih tinggi dari materi; kedua, pengetahuan rasional itu tidak lain adalah pengetahuan atas realitas-realitas abstrak yang permanen di dunia yang lebih tinggi – dialah yang engkau sebut sebagai arkertipe dalam termamu;
Namun, maaf Platon, sampai disini saya pun ragu akan proposisimu, karena di sore hari saya bertemu dengan seorang filsuf dari Timur Tengah bernama Muhammmad Baqir Shadr;
Shadr berkata: dua proposisi di atas salah. Sebab jiwa, dalam pengertian filosofis rasional, bukanlah sesuatu yang ada dalam bentuk abstrak dan mendahului keberadaan tubuh, melainkan hasil dari gerakan subtansial dalam materi;
Dengan gerakan dan proses kesempurnaan, jiwa memperoleh keberadaan immaterial yang tidak bercirikan kualitas material dan tidak tunduk pada hukum materi;
Sekali lagi maaf Platon, aku hanya ingin memberitahu, bahwa, Baqir Shadr juga menolak konsepsimu dengan mulut murid sendiri si Aristoteles;
Bahwa, ide-ide yang bisa dicerap indra itu sama dengan ide universal yang dketahui oleh fikiran setelah fikiran mengabstraksikannya;
Maaf platon, mungkin ini menyakitkan bagimu, tapi aku hanya ingin meluruskan konsepsimu, agar engkau tenang di alam sana;
Namun, aku pun juga harus jujur, jawaban-jawaban dan proposisi-proposisi di atas belum ada yang mampu meyakinkanku, apakah jawaban itu ada dalam konsepsi Disposesi? Tidak ada yang tahu……!
Namun, ada harapan disana dan aku optimis mungkin struktur konsepsi Disposesi dari filsuf islam lebih memuaskan;
Aku menanti struktur konsepsi itu dari sang guru di di tanah Jawa kota Budoyo Yogyakarta ……………………………………………!!!!!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar