SURAT CINTA
UNTUK PLATON DI ALAM SANA
OLEH; FAJAR
HAJER
Platon, engkau
mengatakan jiwa telah ada jauh sebelumnya – sebelum datangnya tubuh;
Bahkan engkau
mengatakan jiwa dan tubuh terpisah oleh lembah dualitas;
Kau sungguh liar
Platon, Konsepsimu telah melanglang buana sampai ke daratan Eropa;
Platon, engkau
harus tahu Pandangan dualitasmu sampai pada Descartes di Prancis dan ia pun mengikuti
asumsi dualitasmu atas tubuh dan jiwa namun ia sedikit berbeda darimu;
Platon, Jika
tubuh dan jiwa itu terpisah, maka ijinkan aku bertanya, kenapa jiwa dan tubuh harus
terpisah atau kenapa alam dan jiwa berada dalam dualitas? Tapi engkau tak menjawabnya;
Aku merasa, itu
tidaklah pantas tuk dikatakan karena itu hanyalah dogma saja dan sungguh itu
sangat tidak epistemik;
Maaf Platon, aku
tak bisa menerima dualitasmu, karena itu sangat membingungkan; dan aku pun
tidak bisa menerima dualitas Descartes;
Aku tidak bisa
menerima kalian berdua karena sementara ini aku lebih memilih ke Jerman bersilahturrahmi
ke dalam konsepsi rasional Immanuel Kant dengan impetaratif kategorinya;
Pada Kant, aku
melihat persambungan, disana ada harapan akan sintesis antara alam dan jiwa
serta konsepsi indrawi dan rasio, ini lebih rasional karena ia sangat
epistemik;
Platon, aku
harus berkata, Aku menemukan secercah kecacatatan dalam struktur konsepsimu,
ku-ulangi sekali lagi engkau mengatakan jiwa telah ada jauh sebelum datangnya
tubuh;
Sehingga jiwa
senantiasa bersentuhan dengan arketipe dimana keabadian dan
pengetahuan-pengetahuan universal dan permanen itu berada;
Namun, Engkau
juga mengatakan, ketika jiwa turun atau manyatu dengan tubuh, si arketipe pun
lenyap dan menjauh dari materi (tubuh) ke alam yang lebih tinggi sehingga jiwa
mengalami “lupa” akan pengetahuan-pengetahuan universalnya;
Darimu muncullah
teori “pengingatan kembali” – dimana dalam konsepsimu pengingatan kembali akan
terjadi melalui konsepsi indrawi;
Indra
menangkap dan mengkonsepsi
partikular-partikular di luar dirinya, ia pun sampai di “Rasio 1” sebagai akal
praktis dalam pandanganmu;
Dari akal
praktis terjadi persentuhan dengan arketipe yang berada diluar rasio dalam
pandanganmu, tadinya indra menangkap itu dalam partikular Fajar, Syamil, dan
Taufik – arketipe pun meresponnya dengan ke-universalitas pengetahuannya dan
berkata itu adalah “manusia”.
Platon, sejujurnya
engkau telah membuatku bimbang, hatiku bertanya, jangan-jangan konsepsi
filosofismu juga epistemik?
Karena, selain engkau
berbicara tentang keabadian pengetahuan di alam idea (arketipe), engkau pun juga
mengawali konsepsimu dari persepsi indrawi sebagai proses “pengingatan kembali”
sehingga arketipe kembali mengaktual;
Kebimbangan itu
semakin memuncak ketika guruku mengatakan struktur konsepsimu tidak epistemik,
hatiku berteriak dan mencela kenapa tidak epistemik?
Guruku menjawab,
ya tidak epistemik;
Konsepsimu tidak
epistemik karena engkau hanya melihat alam sebagai bayang-bayang tak abadi,
ibarat cermin yang memantulkan bayangan sedangkan bayangan itu bukanlah
realitas melainkan kepalsuan yang menipu, keabadian yang sesungguhnya ada di
alam idea yang engkau sebut sebagai arketipe;
Platon, sampai
disini, aku menangkap dua proposisi filosofis darimu: pertama, jiwa itu ada
sebelum keberadaan tubuh dalam suatu dunia yang lebih tinggi dari materi;
kedua, pengetahuan rasional itu tidak lain adalah pengetahuan atas
realitas-realitas abstrak yang permanen di dunia yang lebih tinggi – dialah
yang engkau sebut sebagai arkertipe dalam termamu;
Namun, maaf
Platon, sampai disini saya pun ragu akan proposisimu, karena di sore hari saya
bertemu dengan seorang filsuf dari Timur Tengah bernama Muhammmad Baqir Shadr;
Shadr berkata: dua
proposisi di atas salah. Sebab jiwa, dalam pengertian filosofis rasional,
bukanlah sesuatu yang ada dalam bentuk abstrak dan mendahului keberadaan tubuh,
melainkan hasil dari gerakan subtansial dalam materi;
Dengan gerakan
dan proses kesempurnaan, jiwa memperoleh keberadaan immaterial yang tidak
bercirikan kualitas material dan tidak tunduk pada hukum materi;
Sekali lagi maaf
Platon, aku hanya ingin memberitahu, bahwa, Baqir Shadr juga menolak konsepsimu
dengan mulut murid sendiri si Aristoteles;
Bahwa, ide-ide
yang bisa dicerap indra itu sama dengan ide universal yang dketahui oleh
fikiran setelah fikiran mengabstraksikannya;
Maaf platon,
mungkin ini menyakitkan bagimu, tapi aku hanya ingin meluruskan konsepsimu,
agar engkau tenang di alam sana;
Namun, aku pun
juga harus jujur, jawaban-jawaban dan proposisi-proposisi di atas belum ada
yang mampu meyakinkanku, apakah jawaban itu ada dalam konsepsi Disposesi? Tidak
ada yang tahu……!
Namun, ada
harapan disana dan aku optimis mungkin struktur konsepsi Disposesi dari filsuf
islam lebih memuaskan;
Aku menanti
struktur konsepsi itu dari sang guru di di tanah Jawa kota Budoyo Yogyakarta ……………………………………………!!!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar