RELEVANSI
TEORITIS KONSEP DISPOSESI
DALAM
DOKTRIN RASIONAL
(Menemukan Kemungkinan non-Materi dibalik Materi)
Oleh:
Fajar
Kaum empiris menjadikan pengalaman
sebagai basis pijakan dalam menetukan kriteria pengetahuan manusia. Segala ide
yang muncul tidak lain kecuali bersumber dari pengalaman-pengalaman indrawi
atau persepsi idrawi. Oleh karena itu, dalam proposisinya, pengalamanlah
sebagai pijakan dasar bagi manusia untuk memperoleh pengetahuan objektif,
dimana pengetahuan objektif tersebut dibuktikan melalui serangkaian eksperimen.
Sumber segala pengetahuan adalah pengalaman, tanpa pengalaman atau persepsi
indrawi maka menusia akan kehilangan pengetahuan atau tidak akan mencapai
pengetahuan objektif. pengalaman menjadi basis keniscayaan pengetahuan.
Dalam pengalamanku, mengendarai sepeda
motor dari UIN suka ke Rausyan Fikr biasanya sekitar 20 menit, namun dalam
pengalaman yang lain aku juga biasa menempunya dalam kurun waktu 30 menit, dari
pengalaman tersebut kita pun bisa menangkap bahwa tidak ada keniscayaan pada
pengalaman. Dengan contoh di atas saja sebenarnya kita sudah bisa menangkap
bahwa pengalaman bukanlah ukuran keniscayaan pengetahuan. Melainkan ia hanya
bersifat partikular yang senantiasa harus bersandar pada pembuktian, jadi tanpa
pembuktian atau pengalaman tidak boleh ada kesimpulan. Dalam artian kaum
empiris hanya berbicara pada hal-hal yang telah terbuktikan atau dialami. Jika
belum dialami maka ia bukanlah wilayah penyelidikan empiris.
Sampai disini kita pun sudah bisa menangkap
bahwa doktrin empiris menolak pengetahuan niscaya (pengetahuan universal) sebagaimana
dalam doktrin rasional. Bagi mereka penyelidikan terhadap metafisika adalah
sia-sia belaka, doktrin empiris bertolak belakang dengan doktrin rasional.
Doktrin empiris menyatakan pikiran bergerak dari khusus ke umum, yaitu dari batas-batas
sempit eksperimen ke hukum dan prinsip universal, jelasnya pikiran selalu maju
dari kebenaran partikular empiris ke kebenaran mutlak. Kaum empiris menolak
penalaran silogistik yang berangkat dari hukum umum ke hukum particular khusus
sebagaimana dalam doktrin rasional.
Lantas bagaimana doktrin rasional
menjelaskan pengetahuan niscaya tersebut? Apakah disana ada sintesis atau malah
dualitas? Jika ditinjau dengan konsepsi (teori) rasional Descartes, tentu
disana kita tak akan menemukan sintesis kecuali dualitas, yakni dualitas antara
alam dan jiwa, lebih jelasnya dualias antara pengetahuan particular dan
pengetahuan universal. Implikasi konsepsi rasional pun sangat mudah ditangkap,
yakni pemisahan antara yang profane dan sakral (pemisahan antara alam dan
tuhan), maka bersama Descartes kita pun akan jatuh menjadi seorang sekuler;
Dalam konsepsi teoritis Kant, kita
menemukan sintesis antara alam dan jiwa atau antara persepsi indrawi dan
pengetahuan rasional mandiri. Namun bersama Kant kita pun lagi-lagi jatuh ke
dalam pelukan empiris karena ketidakmampuan menjelaskan keterkaitan antara
pengetahuan niscaya (universal) dengan hal-hal particular di alam; Kant tidak
mampu menjelaskan keterkaitan antara pengetahuan nicaya tersebut ketika ia
dibawah ke realitas ilmiah particular.
Jika ditinjau dengan M. Baqir Shadr,
kita kemudian menemukan bahwa doktrin rasional tidak akan pernah relevan dengan
konsepsi rasional itu sendiri, relevansi doktrin rasional adalah konsep
disposesi. Jika konsep rasional terjadi dualitas antara alam dan ide, dalam
konsepsi disposesi kita akan menemukan sintesis, ada kesinambungan atau relevansi
teoritis antara konsep primer (pengalaman indrawi) dan konsep sekunder (pengetahuan
niscaya/universal).
Konsep disposesi sama seperti konsep
empiris maupun konsep rasional yang sama-sama menerina alam (pengalaman
indrawi) sebagai pijakan primer untuk memperoleh pengetahuan. Teori disposesi
membagi konsepnya ke dalam dua bagian: pertama, konsep primer yang diperoleh
dari pengalaman indrawi; kedua, konsep sekunder yang diturunkan dari pengetahuan
niscaya sebagai sebab dari persepsi idrawi. Dalam disposesi inilah kita akan
menemukan kesinambungan antara materi dan nonmateri (jiwa dan alam), disana ada
kesinambungan antara alam sebagai pijakan primer dalam mengkonsepsi pengetahuan
dan rasio mandiri (R2) sebagai pengetahuan niscaya dan tentunya mampu
melepaskan diri dari alam.
Namun persoalan lain melanda, jika
kesinambungan sudah diterima, serta pengetahuan itu sudah di niscaya di ide
sebagaimana dalam doktrin rasional? Lalu bagaimana pengetahuan tersebut di bawa
ke realitas untuk dibuktikan secara teortis bahwa pengetahuan tersebut bukan
hanya sebagai doktrin/dogma yang niscaya melainkan ia adalah sebuah
pengetahunan objektif yang mampu dan tentunya harus bisa ditasdik di alam; jika
ia dapat ditasdik di alam maka ia pun akan menjadi pengetahuan objektif yang
memiliki kriteria teoritis atau pijakan ilmiah yang objektif pula.
Pertanyaannya mampukah pengetahuan
intuitif yang non materi tersebut di tasdik di alam yang notebene ia sebagai
materi? Tentu kita akan mencari kemungkinan relevansinya di alam, yakni
berupaya menemukan nonmateri dibalik materi; berupaya melampuai materi melalui
serangkaian pembuktian teoritis yang melewati batas-batas ilmiah, yakni
menemukan dirinya melalui dirinya; atau lebih jelasnya menemukan kemungkinan
menifestasi tuhan di alam materi tersebut.
Kesimpulan; Jika kita menggunakan basis
empiris tentu tidak akan relevan, pemikiran filosofis dalam doktrin empiris
tidak mampu mengafirmasi materi, karena materi tidak bisa diangkap dengan
pengalaman murni. Jadi makna materi dalam pahaman empririk hanya sebatas materi
dalam arti fenomena atau aksiden, sedangkan substansi materi itu sendiri tidak
mampu terpahami hanya dengan pengalaman indrawi. Jika demikian, satu-satunya
kemungkinan untuk menemukan relevansi teoritis pengetahuan niscaya tersebut di
alam adalah melalui doktrin rasional dengan pendekatan disposesi, karena disposesi
tidak hanya berhenti pada pengetahuan niscaya yang besifat dokrtinal melainkan
ia berupaya untuk menemukan kemungkinan relevansi teoritisnya di alam sehingga
ia mampu menjadi pengetahuan objektif yang bersandar pada realitas ilmiah yang
terbuktikan.
Mungkin kah……………….???
Wallahu a’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar